Reward - Punishment, Pentingkah Bagi Anak??
Ayah
bunda, anak kita akan menjadi seperti apa yang kita harapkan manakala kita
memperlakukan mereka dengan tepat sesuai situasinya. Terkadang kita melewatkan
moment dimana anak kita perlu apresiasi dan mendapatkan empowerment dari kita. Bentuk apresiasi atas anak ini beragam namun
ada yang khusus dalam merespons sikap anak. Nah salah satu pendekatan itu,
adalah reward dan punishment.
Reward
adalah bentuk apresiasi sikap atau perilaku anak dalam bentuk sesuatu yang dia ‘suka’.
Dalam bahasa mudah ini adalah hadiah buat mereka. Sementara Punishment adalah pemberian sangsi atau
orang tua suka mengistilahkannya hukuman.
Kita buat kesepakatan yuk antara Ayah-Bunda dan Ibu
Guru tentang pemberian Reward- Punishment
yang sesuai bagi anak. Hal-hal yang kita sepakati adalah:
1.
Tidak menggunakan kata hukuman bagi kesalahan anak.
Tapi memberi
pengertian pada anak bahwa setiap perbuatan akan menimbulkan konsekuensi atau
efek bagi anak. Setiap konsekuensi adalah hasil dari perbuatannya, baik positif
atau negatif. Hal ini kita lakukan agar anak terbiasa memiliki rasa
tanggungjawab dan tau akan semua konsekswensi atas setiap perbuatannya.
2.
Pentingkah melakukan kebiasaan ini?
Menurut saya; Ya, penting. Karena dengan membiasakan memberi reward kepada anak akan membuat anak
merasa berharga, dan juga bisa menjadi salah satu cara memotivasinya ke arah
yang lebih baik. Apakah kebiasan ini nantinya tidak akan membentuk anak yang
manja dan selalu mengharapkan balasan dari perbuatannya. InsyaAllah tidak,
tentu saja jika kita melakukannya dengan cara yang tepat. Sesuai dengan
perjalanan umur dan kedewasaannya kelak anak akan sudah terbiasa dengan
kebiasaan-kebiasaan baik. Sebenarnya secara tidak langsung, kita orang dewasa
pun sehari-hari juga selalu melakukan sesuatu karena adanya ‘motif’ atau
iming-iming akan sesuatu, misalnya yang paling tinggi adalah mengharap pahala
(surga) atau menghindari dosa (neraka). Bagi anak-anak usia TK (4-6 tahun),
menurut Piaget dalam teori perkembangan anak, mereka berada dalam tahap
Pra-Operasional Kongkrit, artinya mereka berada di dalam fase yang belum bisa
membayangkan ssesuatu yang tidak nyata, juga masih belum bisa memahami sudut
pandang orang lain terhadap sesuatu, sehingga bagi anak usia anak-anak kita di
TK belum dapat mengkonkritkan surga atau neraka ke dalam pikiran atau kalbunya,
maka perlu untuk mewujudkan konseksuensi tersebut dalam bentuk yang nyata. Lalu
menjadi kewajiban kitalah para orangtua untuk mencari cara yang cerdas dan
kreatif dalam melakukan teknik iming-iming
ini.
| Bisakah senyum terus ada di wajah-wajah mereka. |
3.
Bagaimana bentuk pemberian konsekuensi
yang baik bagi anak?
Yang
penting diingat adalah berilah konsekuensi tersebut sesuai dengan kadar
perbuatan anak, jadi harus proporsional. Tidak melakukan generalisasi atas
sebuah hal baik akan diberi satu jenis reward, begitupun satu hal tidak baik
akan diberi satu jenis imbalan yang tidak baik juga, tetapi harus pandai
membedakan dengan segala macam variasi konsekuensi, baik berdasarkan besar
kecilnya kesalahan atau intensitasnya, baru pertama kali kah atau sudah
berulang-ulang. Lalu bentuknya bagaimana, akan kita bahas demikian:
a.
Reward
atau konsekuensi perbuatan baik; tidak selalu harus berupa barang, tetapi suatu
pujian, tatapan mata hangat, pelukan, ciuman, melakukan tos dengan anak,
belaian, atau memberikan jempol pada anak, juga merupakan suatu bentuk ungkapan
hadiah bagi anak. Jika memang ingin memberikan suatu hadiah barang pada anak,
pilihlah momen-momen yang pas yang sangat berarti, misalnya saat kenaikan
kelas, saat lulus dari Iqra’ 6, atau saat lulus menunaikan puasa ramadhan.
Barang yang dipilih juga sebaiknya memang barang yang sangat diperlukan anak
dan memang kewajiban orangtua untuk membelikannya. Jadi pemberian reward tidak akan menjadi beban ekonomi
bagi orangtua, sebaliknya bagi anak akan memberikan kesan yang mendalam atas
prestasi atau perbuatan baiknya. Jadi, jangan membelikan apa-apa kebutuhan
anak, terlebih dengan harga mahal, tanpa mengatakan dengan jelas itu akibat
dari konsekwensi perbuatannya yang mana, karena sayang sekali jika dilewatkan
momen yang dapat menimbulkan motivasi bagi anak. Misalnya ketika si anak
mengatakan bahwa sepatunya sudah mulai kesempitan, maka Ibu bisa berkata: Oke
nanti Ibu belikan yang baru, kita liat dulu ya hasil raportmu nanti bagaimana…,
tinggal sebulan lagi kan terima raport? Dengan demikian anak tentunya akan
terpacu lebih giat belajar. Nah, ketika hasil raportnya memang memuaskan, si
Ibu ya harus menepati janjinya untuk mebelikan sepatu. Kalau pun hasilnya
kurang memuaskan, dapat dikatakan: Ya kita tetap beli sepatu, tapi tidak
semahal atau sebagus yang kamu inginkan….
b.
Punishment
atau
konsekuensi dari perbuatan yang tidak atau kurang baik harus memenuhi beberapa
syarat, antara lain: tidak boleh sama sekali merendahkan harga diri anak, tidak
boleh memberi hukuman fisik sama sekali (seperti memukul, menjewer atau
mencubit), tidak menggunakan kata-kata ancaman (seperti awas !!). Rasa sakit
yang dirasakan anak akibat hukuman fisik mungkin akan hilang hanya dalam
hitungan menit atau hari, tetapi rasa sakit di kalbunya akan terbawa sampai ia
dewasa kelak dan dapat mempengaruhi pembentukan karakter pribadinya. Kata-kata
ancaman yang diberikan kepada anak sebenarnya sudah merupakan hukuman bagi anak
sebelum ia melakukan apa-apa, bisa jadi hal tersebut justru menghambat potensi
dan kreativitasnya untuk berkembang.
4.
Setiap konsekuensi yang diberikan
sebaiknya selalu mengandung nilai (value),
dan setiap nilai yang ingin ditransfer sebaiknya diucapkan agar tidak terjadi mis-persepsi pada anak.
Misalnya ketika
suatu saat sang anak sangat manis, tertib dan melakukan segala sesuatu sangat
sesuai dengan yang diharapkan orangtuanya, lalu orangtuanya membelikan berbagai
macam barang tanpa mengucapkan apa-apa, maka bisa saja sang anak berfikir bahwa
orangtuanya sedang banyak uang sehingga memberikannya banyak hadiah. Nah,
sayang sekali jika kita kehilangan momen seperti itu. Akan lebih bermakna jika
orangtua mengatakan misalnya: ini Ibu belikan mukena baru karena kamu sholatnya
sangat rajin, jadi mukena ini bisa untuk kamu ganti-ganti kalau sholat, hal ini
akan semakin memacu anak untuk lebih giat lagi sholatnya. Atau seorang Ibu yang
sedang marah pada anaknya karena tidak mau merapikan mainannya, tapi ibu hanya
melakukannya dengan memberi wajah cemberut pada anak, maka hal itu tidak akan
‘nembak’ ke sasaran yang dituju. Lebih baik katakan bahwa “Ibu sangat senang
dan semakin sayang kalau adek mau merapikan mainannya.”
·
Bersikap adil lah para Ayah dan Bunda,
tidak hanya pandai melihat kesalahan atau kekurangan anak sehingga mudah
memberikan punishment, tetapi juga
jeli melihat kepandaian atau kelebihan anak kita, sehingga kita juga tidak
pelit dalam memberikan pujian atau hadiah pada anak kita. Setiap anak
dilahirkan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bukankah dengan menjadi orangtua cerdas dalam memilih reward-punishment yang tepat bagi anak, akan membuat anak kita cerdas untuk bertanggungjawab atas setiap perbuatannya.
Anak adalah karunia terindah, sudah siapkah kita mengantar mereka menyambut masa depannya yang indah juga, seindah senyum-senyum mereka....
J
Anak adalah karunia terindah, sudah siapkah kita mengantar mereka menyambut masa depannya yang indah juga, seindah senyum-senyum mereka....
J






Greattt, hal sepele tapi cukup 'menyentil' saya, thanks Bunda Shinta atas sentilannya, selama ini saya mudah memuji anak org lain tapi pelit memuji anak sendiri....
ReplyDeleteMantaabbbbb ... thanks for the sains, mba Shinta.
ReplyDeleteSiiip, sama2 makasih jg sdh mau mampir Mba Umi, semoga bs sama2 belajar ya jd Ibu yg baik.. (Bunda Shinta)
Delete