Buletin Konsultasi
Psikologi Pendidikan Anak
TKIT Salsabilla Al-Muthi’in, Maguwo, Yogyakarta.
Pengasuh
: Bunda Shinta, S.Pd., M.Si., M.A., C.NLP
(Konsultan Pendidikan dan Psikologi
Anak dan Remaja)
Buletin Edisi
Desember 2011
Tema
: Keselarasan antara Orangtua dan Guru
Pembahasan
Sebagaimana kita
ketahui bahwa keberhasilan proses pendidikan dan pengasuhan seorang anak
tergantung dari banyak hal. Lingkungan dan pengaruh dari rumah (dalam hal ini
orangtua) dan sekolah (dalam hal ini Guru) adalah hal yang sangat besar
pengaruhnya bagi kepribadian seorang anak, terutama di masa usia Golden Age dimana kapasitas seorang anak
dalam menduplicate sesuatu amatlah
besar. Karena itulah sudah semestinya antara kedua faktor tersebut diharapkan
adanya keselarasan dalam segala hal, agar tidak membuat anak bingung atau
bertanya-tanya mengapa kebiasaan atau aturan-aturan yang ditemuinya di sekolah
berbeda dengan yang dihadapinya di rumah.
·
Dalam sebuah proses pendidikan dan
pengasuhan anak, satu hal yang ingin ditransfer oleh guru/orangtua kepada anak
adalah adanya suatu ‘value’ atau
nilai, dalam hal ini tentu saja nilai moral atau nilai-nilai yang baik.
Berkaitan dengan transfer nilai-nilai positif kepada anak, sudah sepantasnya
juga kita hendaknya menggunakan kalimat-kalimat yang positif. Kelihatannya hal
ini adalah hal sepele, tetapi sering sekali kita tidak mengindahkannya. Yang
sering kita lakukan adalah sering menggunakan kata-kata negatif dengan
ditambahkan kata tidak atau jangan. Jadi bentuknya merupakan kalimat
larangan. Padahal, menurut penelitian dalam dunia psikologi, 88 % dari pikiran
bawah sadar manusia (uncouncious-mind)
akan secara otomatis men-delete atau
menghapus kata tidak atau jangan. Dengan meniadakan kata tidak atau jangan,
maka yang terekam di dalam otak anak adalah tinggal kata dasarnya saja, yang
notabene merupakan kata yang negatif. Nah, karena itu, marilah kita
bersama-sama untuk membiasakan diri menggunakan kalimat yang positif. Jadi jika
kita ingin anak tidak melakukan ‘sesuatu’, maka kita tidak mengatakan ‘sesuatu’
tersebut secara terus-menerus. Sesuatu yang kelihatannya sulit kalau selalu
dibiasakan akan menjadi sesuatu yang mudah. Jadi misalnya:
1.
Jika ingin anak kita rajin belajar,
tidak menggunakan kalimat “kamu jangan malas ya Nak”, tapi kita ganti dengan
“jadi anak yang rajin ya Nak” ; atau
2.
Jika ingin anaknya bisa bangun pagi,
tidak mengatakan “ayo segera tidur, supaya besok tidak bangun siang’, tetapi
kita ganti dengan ‘ ayo segera tidur, biar besok bisa bangun pagi”
3.
Jika ingin anak-anak rukun dan saling
menyayangi dengan temannya, sebaiknya orangtua tidak mengatakan “jangan pada
berantem ya sama temennya, jangan pada musuh-musuhan”, tetapi kita ganti dengan
kalimat “yang rukun ya sama temennya, enak lho kalau saling menyayangi dan
memaafkan sesama teman”.
Bagi teman-teman pembaca yang mengerti bahasa jawa
mungkin akan langsung teringat kata ‘ndodro’
sambil mengangguk-angguk. Sebagian para orangtua di jogja dan sekitarnya pernah
saya dengar mengatakan: “Wo lah bocah,
dikandani koq malah nglunjak, ndodro…..” ternyata konsep itu sejalan lho dengan
teori dalam psikologi, bahwa semakin anak dilarang melakukan sesuatu, maka
pikiran bawah sadarnya seolah-olah terbentuk untuk semakin melakukan hal
tersebut, karena kata-kata kunci yang dia dengar terus menerus. Nah, kalau
sudah mengerti ilmu dan teorinya, mengapa kita tak mencoba merubah gaya atau
isi bicara kita pada anak, dengan sering-sering mengucapkan kata-kata positif yang
ingin kita harapkan dari anak kita, bukan menyebut hal yang kita tidak sukai. Dari
pandangan agama pun, bukankah ucapan yang keluar dari mulut seorang Ibu itu
merupakan suatu doa ??
Sederhana bukan?? Walaupun kalimat
tersebut artinya sama, tetapi makna yang terekam di dalam otak anak akan sangat
berbeda. Jadi kalau selama ini kita belum berhasil melihat anak kita berubah
sesuai yang kita inginkan, kesalahan bukan terletak pada anak kita, tetapi
mungkin salah satu penyebabnya karena kita lah yang masih belum benar cara
penyampaiannya. Di sekolah kita TKIT
Salsabila Al-Muthi’in sama sekali tidak dikenal kata-kata anak nakal,
anak rewel, anak bandel, atau sejenisnya. Yang ada hanyalah anak tertib dan
anak yang belum tertib. Kami sangat mengharapkan kerjasama Ayah-Bunda dalam
menerapkan hal sederhana ini. Tidak ada anak yang nakal, yang ada hanyalah anak
istimewa yang memerlukan perhatian dan perlakuan khusus.
· Ayah dan Bunda sering-seringlah memantau
di sekolah atau bertanya kepada Ibu Guru tentang hal-hal apa saja yang sudah
diajarkan di sekolah. Bagi anak-anak yang kritis, adalah hal yang sangat
mengherankan jika di sekolah diajarkan suatu hal, tetapi di rumah tidak
dilihatnya hal tersebut atau bahkan sangat bertolak belakang, misalnya:
1.
Di sekolah setiap hari dibiasakan untuk
selalu sholat berjamaah. Ketika anak sudah mulai bisa menjalankan dan mengerti
maknanya, maka tidak akan ada artinya ajaran tersebut jika di rumah ia tidak
pernah melihat Ayah dan Bundanya melakukan sholat berjamaah, yang artinya anak
tersebut juga tidak pernah diajak untuk sholat berjamaah. Padahal masalah
sholat adalah hal paling fundamental bagi kita yang mengaku muslim.
2.
Di sekolah setiap hari selalu diajarkan
jika makan dan minum sebaiknya dalam posisi duduk sesuai dengan tuntunan yang
diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah kita. Nah,
bagaimana anak akan bisa konsisten menjalankan kebiasaan tersebut jika di rumah
yang dilihatnya adalah hal yang berkebalikan, masih ada Ayah dan Bunda yang
misalnya makan atau minum sambil berdiri. Mungkin menurut Ayah/Bunda hal
tersebut adalah hal yang biasa, tetapi buat anak menjadi tidak biasa, Karena Ibu
Guru di sekolah telah mengajarkan pada anak tentang sebuah hadist yang
menganjurkan agar senantiasa makan dan minum dalam posisi duduk.
Contoh di atas hanyalah sebagian
kecil saja hal-hal yang pada kenyataannya dilihat anak menjadi sesuatu yang
kurang selaras. Dalam beberapa kasus yang ditemui penulis, kedua contoh di atas
adalah yang paling sering diprotes anak kepada orangtuanya atau menanyakan
langsung kepada guru di sekolah, terutama bagi anak-anak yang kritis. Jadi,
kewajiban orangtua tidak hanya sekedar memasukkan anaknya ke sekolah yang
terbaik, tetapi juga harus tau konsekwensi apa yang akan dihadapinya. Semangat
ya Ayah_Bunda untuk mau melihat lagi pelajaran atau hafalan-hafalan di TK agar
tidak diprotes oleh anaknya (waahhh harus belajar lagi nihh…, daripada diprotes
anak….).
·
Yakinlah Ayah dan Bunda bahwa apa yang
kita tanam nantinya itu pula yang akan kita tuai, anak-anak yang diajarkan
dengan kemarahan maka akan tumbuh jadi anak yang pemarah, anak yang terbiasa
dengan kasih sayang akan tumbuh menjadi anak penyayang, anak yang diajarkan
dengan kekerasan maka naluri kelembutannya tidak lagi mudah untuk disentuh,
anak yang tumbuh dalam bentakan akan menikmati hidupnya juga dengan kalimat dan
nada bicaranya yang tinggi, anak yang selalu hidup dalam ancaman maka akan
tumbuh dalam dunia yang penuh kekhawatiran, anak yang selalu ditakut-takuti
maka akan menjadi penakut, dan seterusnya.
·
Ayah dan Bunda, mendidik anak bukanlah
seperti menjalankan sebuah mesin atau robot, yang dengan beberapa langkah
pencet tombol saja mesin sudah berjalan sesuai yang diharapkan. Sangat
dibutuhkan nurani yang tulus dan seni tarik-ulur
pada anak. Pada diri anak selain terdapat raga, juga ruh yang mengisi jiwanya.
Bisa saja raganya menyerupai kita, tetapi tidak bagi jiwanya (Saya nyontek dari
puisinya Kahlil Gibran), maka biarkanlah mereka berkembang sesuai katahatinya,
tugas orangtua hanya mendampingi dan mengarahkan. Sebaiknya tidak sedih ketika
suatu hari si adek kecil yang manis sudah bisa memberontak atau memberi
berbagai macam argument penolakan, hhmmm itu artinya si anak manis kita sudah
bisa melihat warna-warni dunia dengan berbagai dinamikanya. Dengan semakin
berkembangnya dunia dengan segala teknologinya, maka tidak lain dan tidak
bukan, tugas orangtua adalah SENANTIASA
TERUS BELAJAR, untuk bisa
berperan sebagai orangtua terbaik bagi anak-anak mereka. Jika ingin punya
anak-anak yang luar biasa, maka orangtuanya juga harus luar biasa donk,
tentunya dengan selalu mencari cara-cara yang tidak biasa…Setiap orangtua boleh
saja berharap anaknya selalu menjadi juara atau yang terbaik dalam hal apapun,
tetapi sadari juga yuk bahwa setiap anak juga mengharapkan orangtuanya menjadi
orangtua juara, yang melakukan hanya yang terbaik bagi anaknya……Wallahu a’lam
bisshowab…
Oleh:
Bunda Shinta
Saya
tulis di Hotel Sheraton Bandung, 14 Desember 201, jam 08.15 pagi
Ehmm
Bandung msh dinginnn seperti dulu…
Thanks to Bu Tina dan segenap guru-guru yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mewarnai forum konsultasi dan diskusi di sekolah bersama para orangtua selama 2 tahun terakhir. Ukhuwah ini karenaNya.






ASSALamualaikum,yg ingin saya sampaikan arti dari 'orang tua yang efektif seyogianya bisa jeli melihat kelebihan anak,tidak hanya sibuk melihat membahas kelemahan anak?
ReplyDelete