Tuesday, January 17, 2012

Keselarasan Antara Orangtua dan Guru


           Teman-teman pembaca yang saya cintai,  kali ini saya memposting sebuah artikel yang saya ambil dari tulisan saya di buletin sebuah sekolah TK di jogja, saya kutipkan penuh, sebelumnya saya tentu saja sudah meminta ijin kepada Sang Kepala Sekolah untuk mempublikasikan isi dari buletin yang saya asuh tersebut ke dalam situs saya ini. beliau dengan senang hati mengijinkan. Kenapa saya ambil isi tulisan ini dan membaginya ke semua teman pembaca? Karena menurut saya isi atau value di dalamnya sangatlah umum, bisa dipraktekkan untuk siapa saja, sayang sekali kalau tulisan ini hanya saya simpan dan hanya dibaca oleh para orangtua dari TK tersebut saja. Kalaupun ada teman pembaca yang tidak atau kurang sefaham dengan sasaran yang saya tuju dalam tulisan ini, mohon diabaikan saja. Semoga bermanfaat.

Guru-guru dan sebagian Ortu TK Salsabila Al-Muthi'in Jogjakarta

Buletin  Konsultasi  Psikologi  Pendidikan  Anak
TKIT  Salsabilla Al-Muthi’in, Maguwo, Yogyakarta.
Pengasuh : Bunda Shinta, S.Pd., M.Si., M.A., C.NLP
         (Konsultan Pendidikan dan Psikologi Anak dan Remaja)
Buletin  Edisi  Desember  2011
Tema : Keselarasan antara Orangtua dan Guru

Pembahasan
            Sebagaimana kita ketahui bahwa keberhasilan proses pendidikan dan pengasuhan seorang anak tergantung dari banyak hal. Lingkungan dan pengaruh dari rumah (dalam hal ini orangtua) dan sekolah (dalam hal ini Guru) adalah hal yang sangat besar pengaruhnya bagi kepribadian seorang anak, terutama di masa usia Golden Age dimana kapasitas seorang anak dalam menduplicate sesuatu amatlah besar. Karena itulah sudah semestinya antara kedua faktor tersebut diharapkan adanya keselarasan dalam segala hal, agar tidak membuat anak bingung atau bertanya-tanya mengapa kebiasaan atau aturan-aturan yang ditemuinya di sekolah berbeda dengan yang dihadapinya di rumah.
            Karena itulah menurut kami sangat penting untuk membahas masalah ini. Karena berawal dari aturan-aturan yang kecil akan berdampak sangat besar bagi kebiasaan, sifat, karakter dan tingkah laku seorang anak. Lalu apa sajakah yang sebaiknya dilakukan orangtua agar sejalan dengan visi-misi pendidikan di sekolah, khususnya bagi sekolah kita TKIT Salsabila Al-Muthi’in, berikut ini akan kami bahas beberapa hal mendasar :
·                                     Dalam sebuah proses pendidikan dan pengasuhan anak, satu hal yang ingin ditransfer oleh guru/orangtua kepada anak adalah adanya suatu ‘value’ atau nilai, dalam hal ini tentu saja nilai moral atau nilai-nilai yang baik. Berkaitan dengan transfer nilai-nilai positif kepada anak, sudah sepantasnya juga kita hendaknya menggunakan kalimat-kalimat yang positif. Kelihatannya hal ini adalah hal sepele, tetapi sering sekali kita tidak mengindahkannya. Yang sering kita lakukan adalah sering menggunakan kata-kata negatif dengan ditambahkan kata tidak atau jangan. Jadi bentuknya merupakan kalimat larangan. Padahal, menurut penelitian dalam dunia psikologi, 88 % dari pikiran bawah sadar manusia (uncouncious-mind) akan secara otomatis men-delete atau menghapus kata tidak atau jangan. Dengan meniadakan kata tidak atau jangan, maka yang terekam di dalam otak anak adalah tinggal kata dasarnya saja, yang notabene merupakan kata yang negatif. Nah, karena itu, marilah kita bersama-sama untuk membiasakan diri menggunakan kalimat yang positif. Jadi jika kita ingin anak tidak melakukan ‘sesuatu’, maka kita tidak mengatakan ‘sesuatu’ tersebut secara terus-menerus. Sesuatu yang kelihatannya sulit kalau selalu dibiasakan akan menjadi sesuatu yang mudah. Jadi misalnya:
1.      Jika ingin anak kita rajin belajar, tidak menggunakan kalimat “kamu jangan malas ya Nak”, tapi kita ganti dengan “jadi anak yang rajin ya Nak” ; atau
2.      Jika ingin anaknya bisa bangun pagi, tidak mengatakan “ayo segera tidur, supaya besok tidak bangun siang’, tetapi kita ganti dengan ‘ ayo segera tidur, biar besok bisa bangun pagi”
3.      Jika ingin anak-anak rukun dan saling menyayangi dengan temannya, sebaiknya orangtua tidak mengatakan “jangan pada berantem ya sama temennya, jangan pada musuh-musuhan”, tetapi kita ganti dengan kalimat “yang rukun ya sama temennya, enak lho kalau saling menyayangi dan memaafkan sesama teman”.

Bagi teman-teman pembaca yang mengerti bahasa jawa mungkin akan langsung teringat kata ‘ndodro’ sambil mengangguk-angguk. Sebagian para orangtua di jogja dan sekitarnya pernah saya dengar mengatakan: “Wo lah bocah, dikandani koq malah nglunjak, ndodro…..” ternyata konsep itu sejalan lho dengan teori dalam psikologi, bahwa semakin anak dilarang melakukan sesuatu, maka pikiran bawah sadarnya seolah-olah terbentuk untuk semakin melakukan hal tersebut, karena kata-kata kunci yang dia dengar terus menerus. Nah, kalau sudah mengerti ilmu dan teorinya, mengapa kita tak mencoba merubah gaya atau isi bicara kita pada anak, dengan sering-sering mengucapkan kata-kata positif yang ingin kita harapkan dari anak kita, bukan menyebut hal yang kita tidak sukai. Dari pandangan agama pun, bukankah ucapan yang keluar dari mulut seorang Ibu itu merupakan suatu doa ??

Sederhana bukan?? Walaupun kalimat tersebut artinya sama, tetapi makna yang terekam di dalam otak anak akan sangat berbeda. Jadi kalau selama ini kita belum berhasil melihat anak kita berubah sesuai yang kita inginkan, kesalahan bukan terletak pada anak kita, tetapi mungkin salah satu penyebabnya karena kita lah yang masih belum benar cara penyampaiannya. Di sekolah kita TKIT  Salsabila Al-Muthi’in sama sekali tidak dikenal kata-kata anak nakal, anak rewel, anak bandel, atau sejenisnya. Yang ada hanyalah anak tertib dan anak yang belum tertib. Kami sangat mengharapkan kerjasama Ayah-Bunda dalam menerapkan hal sederhana ini. Tidak ada anak yang nakal, yang ada hanyalah anak istimewa yang memerlukan perhatian dan perlakuan khusus.

·                                  Ayah dan Bunda sering-seringlah memantau di sekolah atau bertanya kepada Ibu Guru tentang hal-hal apa saja yang sudah diajarkan di sekolah. Bagi anak-anak yang kritis, adalah hal yang sangat mengherankan jika di sekolah diajarkan suatu hal, tetapi di rumah tidak dilihatnya hal tersebut atau bahkan sangat bertolak belakang, misalnya:
1.      Di sekolah setiap hari dibiasakan untuk selalu sholat berjamaah. Ketika anak sudah mulai bisa menjalankan dan mengerti maknanya, maka tidak akan ada artinya ajaran tersebut jika di rumah ia tidak pernah melihat Ayah dan Bundanya melakukan sholat berjamaah, yang artinya anak tersebut juga tidak pernah diajak untuk sholat berjamaah. Padahal masalah sholat adalah hal paling fundamental bagi kita yang mengaku muslim.
2.      Di sekolah setiap hari selalu diajarkan jika makan dan minum sebaiknya dalam posisi duduk sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah kita. Nah, bagaimana anak akan bisa konsisten menjalankan kebiasaan tersebut jika di rumah yang dilihatnya adalah hal yang berkebalikan, masih ada Ayah dan Bunda yang misalnya makan atau minum sambil berdiri. Mungkin menurut Ayah/Bunda hal tersebut adalah hal yang biasa, tetapi buat anak menjadi tidak biasa, Karena Ibu Guru di sekolah telah mengajarkan pada anak tentang sebuah hadist yang menganjurkan agar senantiasa makan dan minum dalam posisi duduk.

Contoh di atas hanyalah sebagian kecil saja hal-hal yang pada kenyataannya dilihat anak menjadi sesuatu yang kurang selaras. Dalam beberapa kasus yang ditemui penulis, kedua contoh di atas adalah yang paling sering diprotes anak kepada orangtuanya atau menanyakan langsung kepada guru di sekolah, terutama bagi anak-anak yang kritis. Jadi, kewajiban orangtua tidak hanya sekedar memasukkan anaknya ke sekolah yang terbaik, tetapi juga harus tau konsekwensi apa yang akan dihadapinya. Semangat ya Ayah_Bunda untuk mau melihat lagi pelajaran atau hafalan-hafalan di TK agar tidak diprotes oleh anaknya (waahhh harus belajar lagi nihh…, daripada diprotes anak….).

·                                         Yakinlah Ayah dan Bunda bahwa apa yang kita tanam nantinya itu pula yang akan kita tuai, anak-anak yang diajarkan dengan kemarahan maka akan tumbuh jadi anak yang pemarah, anak yang terbiasa dengan kasih sayang akan tumbuh menjadi anak penyayang, anak yang diajarkan dengan kekerasan maka naluri kelembutannya tidak lagi mudah untuk disentuh, anak yang tumbuh dalam bentakan akan menikmati hidupnya juga dengan kalimat dan nada bicaranya yang tinggi, anak yang selalu hidup dalam ancaman maka akan tumbuh dalam dunia yang penuh kekhawatiran, anak yang selalu ditakut-takuti maka akan menjadi penakut, dan seterusnya.

·                                             Ayah dan Bunda, mendidik anak bukanlah seperti menjalankan sebuah mesin atau robot, yang dengan beberapa langkah pencet tombol saja mesin sudah berjalan sesuai yang diharapkan. Sangat dibutuhkan nurani yang tulus dan seni tarik-ulur pada anak. Pada diri anak selain terdapat raga, juga ruh yang mengisi jiwanya. Bisa saja raganya menyerupai kita, tetapi tidak bagi jiwanya (Saya nyontek dari puisinya Kahlil Gibran), maka biarkanlah mereka berkembang sesuai katahatinya, tugas orangtua hanya mendampingi dan mengarahkan. Sebaiknya tidak sedih ketika suatu hari si adek kecil yang manis sudah bisa memberontak atau memberi berbagai macam argument penolakan, hhmmm itu artinya si anak manis kita sudah bisa melihat warna-warni dunia dengan berbagai dinamikanya. Dengan semakin berkembangnya dunia dengan segala teknologinya, maka tidak lain dan tidak bukan, tugas orangtua adalah  SENANTIASA  TERUS  BELAJAR, untuk bisa berperan sebagai orangtua terbaik bagi anak-anak mereka. Jika ingin punya anak-anak yang luar biasa, maka orangtuanya juga harus luar biasa donk, tentunya dengan selalu mencari cara-cara yang tidak biasa…Setiap orangtua boleh saja berharap anaknya selalu menjadi juara atau yang terbaik dalam hal apapun, tetapi sadari juga yuk bahwa setiap anak juga mengharapkan orangtuanya menjadi orangtua juara, yang melakukan hanya yang terbaik bagi anaknya……Wallahu a’lam bisshowab…

Oleh: Bunda Shinta
Saya tulis di Hotel Sheraton Bandung, 14 Desember 201, jam 08.15 pagi
Ehmm Bandung msh dinginnn seperti dulu…

Thanks to Bu Tina dan segenap guru-guru yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mewarnai forum konsultasi dan diskusi di sekolah bersama para orangtua selama 2 tahun terakhir. Ukhuwah ini karenaNya.

1 comments:

  1. ASSALamualaikum,yg ingin saya sampaikan arti dari 'orang tua yang efektif seyogianya bisa jeli melihat kelebihan anak,tidak hanya sibuk melihat membahas kelemahan anak?

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan pendapat atau komentar anda