Tuesday, January 17, 2012

Your Family Is Under Attack...


Your Family Is Under Attack

            Sabtu pagi, 07 Mei 2011 di sebuah ruangan aula di RS Jogja Internasional Hospital, Jogjakarta, ratusan pasang mata dibuat terkesiap oleh hentakan yang ada. Besarnya getaran di setiap dada kami rasanya melebihi dari 5 SR, seperti gempa-gempa tektonik yang belakangan lumayan sering menggoyang kota kami. Bahkan rasanya jauh lebih besar daripada getaran gempa tgl 26 Mei 2006 yang waktu itu terukur sebesar 5,9 SR. Jika ada gempa kami lalu dengan sangat spontan akan berlarian ke manapaun tempat terbuka yang dirasa cukup aman melindungi tubuh ini. Tapi kali ini…., tak ada tempat sembunyi, kedua tangan kami tak cukup menutupi wajah kami, bibir ini pun tak sanggup lagi bergetar…. Bukan karena gedung tempat kami berkumpul itu tiba-tiba bergoyang, bukan pula karena tertiup goyangan angin puting beliung, tapi kami semua terkesiap dengan data yang disodorkan kepada kami.

            Hari itu saya merasa sangat beruntung karena dipertemukan dengan Ibu Elly Risman, Psi, seorang Psikolog yang juga Direktur dari Yayasan Buah Hati Kita di Jakarta. Sekitar 3 minggu sebelum pertemuan itu, dada saya sudah mulai sesak ketika melihatnya menjadi narasumber di acara Kick Andy. Kesampaianlah impian saya untuk bisa langsung copy darat dengan Beliau. Ibu Elly adalah pemerhati dan juga psikolog yang sangat concern membahas permasalahan pada anak dari sisi Pornografi. Waooww topic yang rasanya belum perlu lah dibicarakan di sebuah kota pelajar seperti Jogja ini. Eits tunggu dulu, ternyata teknologi sangatlah cepat menular, kabel ratusan kilometer tentunya sudah bukan lagi barang mahal yang sulit diperoleh demi untuk meleburkan anak-anak di kota non-metropolis (termasuk di desa) dengan yang namanya teknologi, khusunya internet. Apalagi sekarang tak selalu harus menggunakan kabel kan, telfon dan sambungan internet nir-kabel sudah menjadi teman bagi siapa saja. Oke saya akan ceritakan apa saja yang saya dapatkan dari pertemuan dengan Ibu Elly waktu itu, tentunya dengan saya tambah bumbu-bumbu di sana-sini.
            Bapak dan Ibu semua, Ayah dan Bunda yang membaca tulisan ini, ketika kita membicarakan sebuah fenomena atau masalah apapun yang berkaitan dengan anak kita, tolong lepaskan dulu ya semua jabatan, gelar, posisi atau kedudukan apapun yang melekat pada diri Ayah Bunda semua. Letakkan dulu barang sebentar, taruh sajalah di samping. Sekarang kedudukan kita sama semua, yaitu sebagai orang yang mendapat amanah dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa, untuk mengasuh, mendidik dan mengantarkan ke masa depannya dari diri seorang, dua orang, tiga orang atau beberapa ANAK  sekaligus. Sebegitu seriuskah masalah pengasuhan anak sehingga kita harus benar-benar serius menghadapinya. Jawabnya: Ya, serius, sangat serius, karena anak bukanlah boneka, yang ketika kita bosan, kita bisa membuangnya lalu menggantinya dengan boneka yang lain. Anak adalah boneka yang punya nyawa. Karena punya nyawa itulah, kita tak boleh sembarangan memainkannya.
            Salah satu masalah penting yang tak bisa lepas dari anak-anak kita adalah masalah Teknologi. Teknologi bagaikan dua sisi mata pisau, memiliki banyak manfaat sekaligus juga memberikan banyak kerugian. Owhyaaa?? Ya, semua sangat tergantung dari kita yang menggunakannya. Sebuah pisau akan sangat bermanfaat jika digunakan untuk memotong buah, sayur bahkan daging untuk makanan kita, tetapi jika salah penggunaannya, pisau juga bis adengan sukses melukai atau membunuh siapa saja. Begitupun teknologi, dalam hal ini contohnya Televisi, HP, dan Internet. Ada berapa gelintir sekarang orang di sekitar kita yang tidak memiliki TV, HP, dan atau Internet?? Rasanya hampir tidak ada bukan? Tetapi di tengah-tengah euphoria kiata menyambut dan mengeloni teknologi pernahkah terbersit rasa takut dan khawatir akan kehadirannya, khususnya bagi perkembangan anak-anak kita… Ahh, itu kan berbahaya bagi anak oranglain, tapi tidak bagi anakku, anakku sangat manis, sudah aku bekali dengan nilai-nilai agama, sudah kupilihkan sekolah terbaik baginya di kota ini, so don’t worry lah. Eits, siapa bilang begitu Ayah, Bunda?? Siapa yang bisa menjamin kalau anak kita aman 100 persen dari kejahatan teknologi?? Please, Bangunnn Ayah, bangun Bunda…, kita sudah terlalu lama pingsan.!!!! Your Family is Under Attack, Your Family is Under Attack…., Your Family isn’t Save….
            Apakah Ayah Bunda bisa selama 24 jam mendampingi anak-anak kita? Apakah yakin sekali Ayah dan Bunda kalau anak-anak kita berteman dengan teman yang tepat? Kita tak perlu sibuk dan repot mengurusi masalah Negara ini, korupsi, pergantian presiden, walikota, demo minta penuruan harga-harga, dan sejenisnya, ooppppsss sudahlah itu bukan urusan dan wewenang kita. Serahkanlah pada orang-orang pandai yang memang dibayar untuk itu. Hanya satu urusan penting kita tapi sering kita abaikan…; Urusan Anak-anak kita…., Ini urusan penting untuk masa depannya, dunia dan akherat. Presiden atau gubernur atau bupati atau walikota bisa berganti dengan menelan biaya ratusan milyar rupiah, tetapi adakah di antara mereka yang bisa memberikan kontribusi langsung bagi pribadi dan keberhasilan anak-anak kita?? Apakah jika anak kita masa depannya hancur atau ketika di akherat nanti dia tak bisa menemukan jalan untuk ke surga, lalu kita akan meminta pertanggungjawaban pemerintah? Sama sekali tidak kan..?? kita lah orang yang harus bertanggungjawab. So, perang pertama yang harus segera kita lakukan adalah ; Perang Melawan Keterabaian Kita, semoga apa yang kita prasangkakan tadi di depan benar adanya, bahwa cukuplah itu menjadi masalah bagi anak orang, bukan bagi anak-anak kita.
            Ayo kita singkirkan kesombongan dari dalam hati dan diri kita. Kesombongan sebagai orangtua yang merasa sempurna telah memberikan yang terbaik bagi anaknya. sebagian besar dari kita mungkin mudah sekali merasa: yang terpenting anak saya sudah saya masukan ke sekolah terbaik, saya beri makanan terbaik pula, saya beri fasilitas teknologi tercanggih, lalu tenanglah para orangtua ketika anak-anak 'anteng'  di depan layar TV atau monitor komputer mereka. Saya tidak menularkan ketakutan, tapi saya hanya menularkan kewaspadaan. Menunduklah kita semua, hitung-hitunglah berapa jam sehari kita serahkan pengasuhan anak-anak kita pada Ra*m Punj*bi?? Dan itu sudah berlangsung selama belasan bahkan puluhan tahun yang lalu bukan?? Pandai sekali dia dan antek-anteknya membuat acara yang melenakan kita dan anak-anak, tanpa sama sekali kita sadari pelan-pelan memasukkan nilai-nilai yang seharusnya kita hindari, materialisme, hedonis, seks bebas, dan virus-virus lainnya.  Televisi benar-benar telah mencuci otak kita (pada bagian artikel saya yang lain akan saya bahas seberapa jauh sih TV bisa mencuci otak kita), hampir semua orang mungkin akan merasa miskin dan merugi jika belum punya TV di rumahnya. Seakan-akan acara-acara TV bisa memberikan edukasi, informasi, bahkan hiburan kepada kita. Bahkan momen-memoen tertentu dengan mudahnya mereka menghipnotis kita, dengan kemasan lebaran, puasa, atau acara keagamaan lainnya, peringatan hari Ibu, hari pendidikan, dan sebagainya. Itu hanya bungkusnya, kemasannya, tak sedihkah kita melihat content acaranya? Tak sadarkah kita di hampir semua acara selalu terselip virus homoseksual, gay, atau melegalkan ke’banci-banci’an, walau dengan kemasan yang lucu?? Seberapa besar para pemilik modal telah mencuri waktu dan uang kita hanya untuk memuja bintang yang diorbitkannya, semisal Olga Sy*hputra, Ivan Gun*wan, dan juga type-type sejenis mereka…….. pikirkanlah para Ayah, Ibu, kira-kira terselip maksud apa para produser itu menampilkan mereka, belum lagi ditambah berita infotainment yang tiada habisnya mengobrak-abrik kehidupan rumahtangga orang..???
            Masih siap kan menerima debaran dan tamparan yang lain?? Hufffhhh tahan nafas, lepaskan, gigit lidah lalu tahan untuk tidak mengucapkan apa-apa dulu selain Istighfar…. Kita sama-sama yaukkmembangun awareness ini, segeralah sadar dengan apa yang sudah terjadi selama ini. Itu tadi soal televisi, sekarang bagaimana soal game-online di internet, seberapa banyak di antara ayah dan bunda yang tau segala macam jenis-jenis permainan atau game-online di internet?? Saya hampir tak tau apa-apa tentang ini. Ternyata setelah diteliti dan dianalisis, dari banyaknya jenis-jenis game tersebut, hampir 100 persen terselip gambar wanita dengan pakaian minim (=seksi), walau dikemas dalam cerita heroik atau pembela kebenaran, tapi sosok-sosok wanita tersebut tak pernah ketinggalan, bisa sebagai asisten sang jagoan, pengawal atau bahkan hadiah yang akan diberikan kepada pihak lawan jika dia kalah dalam game tersebut. Owhya?? Masa’ sehh?? Ya iyalah kita gak tau, kan kita pingsan selama ini…, duhhhh. Menurut Donald Hilton, Jr, seorang ahli kerusakan otak: otak anak yang mengalami kerusakan karena ketergantungan game atau pornografi pada internet, bahayanya adalah dua kali dari ketergantungan terhadap narkoba !!!! Nah lhooo…, ngeri ternyata ya.., duhh saya kemana aja selama ini jadi ayah atau Ibu??  Nilai lain yang terserap anak dari game-game tersebut adalah terbentuknya ; Jiwa Teroris…!!! Segala permasalahan lalu bisa diselesaikan dengan kekerasan, senjata, bom, dan sejenisnya. Jadi sebenarnya, tak adalah hubungannya teroris dengan NII, tapi hubungannya dengan pemerintah yang masih saja berdiam diri membiarkan game-game pembentuk teroris tumbuh subur di depan anak-anak kita. atau tak usahlah sampai ke teroris, sebagian besar game online mengajarkan kekerasan, atau nilai-nilai premanisme, saling bis aberkuasa terhadap sesama. Maka jangan heran deh ketika anak-anak kita baru usia 7 atau 8 tahun tetapi sudah sangat pandai dalam menyetir atau memerintah bahkan membentak ayah-ibunya?? Whuaaa bagaimana nanti ketika mereka sudah berumur 17 tahun..?? Akan lari ke manakah kita?? 
            Sekedar tambahan informasi yang bisa menambah kencang detak jantung dan dahi semakin mengernyit; Yayasan Kita dan Buah Hati Kita juga melansir data bahwa sebanyak 67 persen dari 2.818 siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 4-6 mengaku pernah mengakses informasi pornografi. Sebagian besar anak-anak belia itu melihat pornografi melalui media komik. Data mengejutkan tersebut terungkap dari hasil survei Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di sejumlah SD di Indonesia sejak Januari 2008 hingga Februari 2010.  Huuffhhhh……tentang pornografi pada anak mungkin sebaiknya saya bahas di artikel lain aja yaa...#gak cukup nih debarannya#
            Lalu akan saya sembunyikan di manakah anak-anak saya dari teknologi?? Owwhh bukan harus disembunyikan Bunda, tapi kita hanya harus lebih waspada. Games juga bisa memberikan banyak manfaat jika mampu memilih yang baik lho, misalnya akan melatih kemampuan koordinasi-senso motorik anak, melatih kecepatan berfikir, melatih kemampuan bahasa inggris anak juga tentunya kemampuan lebih trampil menggunakan komputer dan internet. Kita harus cerdik dalam mempersilahkan teknologi masuk ke dalam rumah kita, yang notabene akan merasuki anak-anak kita. Ada langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan paling tidak untuk meminimalisir resiko kerugian,  misalnya perhatikan letak komputer (tidak menghadap dinding), diletakkan di area publik misal di ruang keluarga, lakukan filterisasi terhadap situs porno (pasang alat atau system pemblokir), buat kesepakatan tentang waktu bermain internet, dan secara berkala tolong di cek situs apa saja yang telah dibuka anak di komputer. 
            Itu baru TV dan Internet, bagaimana dengan yang lain, HP, komik atau kesalahan memilih teman bagi anak….?? Whuaaaa ini pembaca sudah semakin berdegup kencang dadanya, oke akan saya lanjutkan di artike yang lain saja ya. Yang ini kita fahami dulu, istighfar lalu diamalkan…., ketika sudah selesai membaca tulisan ini, maka masihkah kita menjadi orangtua yang sudah sangat lega bisa membelikan anak seperangkat komputer lengkap dengan jaringan internetnya, dan juga sangat lega melihat sang anak dengan sangat ‘tekun’ dan ‘serius’ khusyuk di depan komputernya di kamar…, tak pernah lagi sang anak keluyuran keluar rumah….?? masihkah kita para Ayah dan Bunda masih akan tetap pingsan sayang..?? Bangunlah…, sekali lagi: ketika kita mati nanti, tak akan ditanya terus menerus siapa dan kenapa kita memilih presiden atau walikota si A atau si B, tetapi kita akan diminta pertanggungjawaban tentang : ANAK  KITA. So, Jangan Pingsan ya Ayah, Bunda, juga calon Ayah dan Bunda……, Bangunlah kesadaran kita bersama-sama betapa di luar sana banyak sekali orang atau system yang akan meracuni fikiran anak-anak kita….

Oleh : Bunda Shinta
Jogja, 8 Mei 2011 jam 22.30
Big Thanks buat Bunda Elly Risman, terimakasih telah menyadarkan kami….

2 comments:

  1. Ngeri ternyata yaa..., selama ini saya termasuk salah satu orangtua yg pingsan...., sy juga sangat sering menikmati Televisi dan sibuk sendiri dengan Blackberry saya, ayo Bunda Cinta, berikan kami lagi lebih banyak obat yg bs membangunkan kami dari pingsan... (by Eko..., andai istriku sepertimu..., kamu sih dl menolak cintaku.., huhuhu...)

    ReplyDelete
  2. izin share ya bunda cinta .... terima kasih banyak

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan pendapat atau komentar anda