Your Family Is Under
Attack
Sabtu pagi, 07 Mei 2011 di sebuah
ruangan aula di RS Jogja Internasional Hospital, Jogjakarta, ratusan pasang
mata dibuat terkesiap oleh hentakan yang ada. Besarnya getaran di setiap dada
kami rasanya melebihi dari 5 SR, seperti gempa-gempa tektonik yang belakangan
lumayan sering menggoyang kota kami. Bahkan rasanya jauh lebih besar daripada
getaran gempa tgl 26 Mei 2006 yang waktu itu terukur sebesar 5,9 SR. Jika ada
gempa kami lalu dengan sangat spontan akan berlarian ke manapaun tempat terbuka
yang dirasa cukup aman melindungi tubuh ini. Tapi kali ini…., tak ada tempat
sembunyi, kedua tangan kami tak cukup menutupi wajah kami, bibir ini pun tak
sanggup lagi bergetar…. Bukan karena gedung tempat kami berkumpul itu tiba-tiba
bergoyang, bukan pula karena tertiup goyangan angin puting beliung, tapi kami
semua terkesiap dengan data yang disodorkan kepada kami.
Hari itu saya merasa sangat
beruntung karena dipertemukan dengan Ibu Elly Risman, Psi, seorang Psikolog
yang juga Direktur dari Yayasan Buah Hati Kita di Jakarta. Sekitar 3 minggu
sebelum pertemuan itu, dada saya sudah mulai sesak ketika melihatnya menjadi
narasumber di acara Kick Andy. Kesampaianlah impian saya untuk bisa langsung
copy darat dengan Beliau. Ibu Elly adalah pemerhati dan juga psikolog yang
sangat concern membahas permasalahan
pada anak dari sisi Pornografi. Waooww topic yang rasanya belum perlu lah
dibicarakan di sebuah kota pelajar seperti Jogja ini. Eits tunggu dulu,
ternyata teknologi sangatlah cepat menular, kabel ratusan kilometer tentunya
sudah bukan lagi barang mahal yang sulit diperoleh demi untuk meleburkan
anak-anak di kota non-metropolis (termasuk di desa) dengan yang namanya teknologi,
khusunya internet. Apalagi sekarang tak selalu harus menggunakan kabel kan,
telfon dan sambungan internet nir-kabel sudah menjadi teman bagi siapa saja.
Oke saya akan ceritakan apa saja yang saya dapatkan dari pertemuan dengan Ibu
Elly waktu itu, tentunya dengan saya tambah bumbu-bumbu di sana-sini.
Bapak dan Ibu semua, Ayah dan Bunda
yang membaca tulisan ini, ketika kita membicarakan sebuah fenomena atau masalah
apapun yang berkaitan dengan anak kita, tolong lepaskan dulu ya semua jabatan,
gelar, posisi atau kedudukan apapun yang melekat pada diri Ayah Bunda semua.
Letakkan dulu barang sebentar, taruh sajalah di samping. Sekarang kedudukan
kita sama semua, yaitu sebagai orang yang mendapat amanah dari Allah, Tuhan
Yang Maha Esa, untuk mengasuh, mendidik dan mengantarkan ke masa depannya dari
diri seorang, dua orang, tiga orang atau beberapa ANAK sekaligus. Sebegitu seriuskah masalah
pengasuhan anak sehingga kita harus benar-benar serius menghadapinya. Jawabnya:
Ya, serius, sangat serius, karena anak bukanlah boneka, yang ketika kita bosan,
kita bisa membuangnya lalu menggantinya dengan boneka yang lain. Anak adalah
boneka yang punya nyawa. Karena punya nyawa itulah, kita tak boleh sembarangan
memainkannya.
Salah satu masalah penting yang tak
bisa lepas dari anak-anak kita adalah masalah Teknologi. Teknologi bagaikan dua
sisi mata pisau, memiliki banyak manfaat sekaligus juga memberikan banyak
kerugian. Owhyaaa?? Ya, semua sangat tergantung dari kita yang menggunakannya.
Sebuah pisau akan sangat bermanfaat jika digunakan untuk memotong buah, sayur
bahkan daging untuk makanan kita, tetapi jika salah penggunaannya, pisau juga
bis adengan sukses melukai atau membunuh siapa saja. Begitupun teknologi, dalam
hal ini contohnya Televisi, HP, dan Internet. Ada berapa gelintir sekarang
orang di sekitar kita yang tidak memiliki TV, HP, dan atau Internet?? Rasanya
hampir tidak ada bukan? Tetapi di tengah-tengah euphoria kiata menyambut dan
mengeloni teknologi pernahkah terbersit rasa takut dan khawatir akan kehadirannya,
khususnya bagi perkembangan anak-anak kita… Ahh, itu kan berbahaya bagi anak
oranglain, tapi tidak bagi anakku, anakku sangat manis, sudah aku bekali dengan
nilai-nilai agama, sudah kupilihkan sekolah terbaik baginya di kota ini, so
don’t worry lah. Eits, siapa bilang begitu Ayah, Bunda?? Siapa yang bisa
menjamin kalau anak kita aman 100 persen dari kejahatan teknologi?? Please,
Bangunnn Ayah, bangun Bunda…, kita sudah terlalu lama pingsan.!!!! Your
Family is Under Attack, Your Family is Under Attack…., Your Family isn’t Save….
Apakah Ayah Bunda bisa selama 24 jam
mendampingi anak-anak kita? Apakah yakin sekali Ayah dan Bunda kalau anak-anak
kita berteman dengan teman yang tepat? Kita tak perlu sibuk dan repot mengurusi
masalah Negara ini, korupsi, pergantian presiden, walikota, demo minta penuruan
harga-harga, dan sejenisnya, ooppppsss sudahlah itu bukan urusan dan wewenang
kita. Serahkanlah pada orang-orang pandai yang memang dibayar untuk itu. Hanya
satu urusan penting kita tapi sering kita abaikan…; Urusan Anak-anak kita….,
Ini urusan penting untuk masa depannya, dunia dan akherat. Presiden atau gubernur atau bupati atau walikota bisa berganti dengan menelan biaya ratusan milyar rupiah, tetapi adakah di antara mereka yang bisa memberikan kontribusi langsung bagi pribadi dan keberhasilan anak-anak kita?? Apakah jika anak
kita masa depannya hancur atau ketika di akherat nanti dia tak bisa menemukan
jalan untuk ke surga, lalu kita akan meminta pertanggungjawaban pemerintah?
Sama sekali tidak kan..?? kita lah orang yang harus bertanggungjawab. So,
perang pertama yang harus segera kita lakukan adalah ; Perang Melawan
Keterabaian Kita, semoga apa yang kita prasangkakan tadi di depan benar adanya,
bahwa cukuplah itu menjadi masalah bagi anak orang, bukan bagi anak-anak kita.
Ayo kita singkirkan kesombongan dari
dalam hati dan diri kita. Kesombongan sebagai orangtua yang merasa sempurna telah
memberikan yang terbaik bagi anaknya. sebagian besar dari kita mungkin mudah sekali merasa: yang terpenting anak saya sudah saya masukan ke sekolah terbaik, saya beri makanan terbaik pula, saya beri fasilitas teknologi tercanggih, lalu tenanglah para orangtua ketika anak-anak 'anteng' di depan layar TV atau monitor komputer mereka. Saya tidak menularkan ketakutan, tapi
saya hanya menularkan kewaspadaan. Menunduklah kita semua, hitung-hitunglah
berapa jam sehari kita serahkan pengasuhan anak-anak kita pada Ra*m Punj*bi??
Dan itu sudah berlangsung selama belasan bahkan puluhan tahun yang lalu bukan??
Pandai sekali dia dan antek-anteknya membuat acara yang melenakan kita dan
anak-anak, tanpa sama sekali kita sadari pelan-pelan memasukkan nilai-nilai
yang seharusnya kita hindari, materialisme, hedonis, seks bebas, dan
virus-virus lainnya. Televisi
benar-benar telah mencuci otak kita (pada bagian artikel saya yang lain akan
saya bahas seberapa jauh sih TV bisa mencuci otak kita), hampir semua orang
mungkin akan merasa miskin dan merugi jika belum punya TV di rumahnya.
Seakan-akan acara-acara TV bisa memberikan edukasi, informasi, bahkan hiburan
kepada kita. Bahkan momen-memoen tertentu dengan mudahnya mereka menghipnotis
kita, dengan kemasan lebaran, puasa, atau acara keagamaan lainnya, peringatan
hari Ibu, hari pendidikan, dan sebagainya. Itu hanya bungkusnya, kemasannya,
tak sedihkah kita melihat content acaranya? Tak sadarkah kita di hampir semua
acara selalu terselip virus homoseksual, gay, atau melegalkan ke’banci-banci’an,
walau dengan kemasan yang lucu?? Seberapa besar para pemilik modal telah
mencuri waktu dan uang kita hanya untuk memuja bintang yang diorbitkannya,
semisal Olga Sy*hputra, Ivan Gun*wan, dan juga type-type sejenis mereka……..
pikirkanlah para Ayah, Ibu, kira-kira terselip maksud apa para produser itu
menampilkan mereka, belum lagi ditambah berita infotainment yang tiada habisnya
mengobrak-abrik kehidupan rumahtangga orang..???
Masih siap kan menerima debaran dan
tamparan yang lain?? Hufffhhh tahan nafas, lepaskan, gigit lidah lalu tahan
untuk tidak mengucapkan apa-apa dulu selain Istighfar…. Kita sama-sama yaukkmembangun awareness ini, segeralah sadar dengan apa yang sudah terjadi selama
ini. Itu tadi soal televisi, sekarang bagaimana soal game-online di internet, seberapa
banyak di antara ayah dan bunda yang tau segala macam jenis-jenis permainan
atau game-online di internet?? Saya hampir tak tau apa-apa tentang ini.
Ternyata setelah diteliti dan dianalisis, dari banyaknya jenis-jenis game
tersebut, hampir 100 persen terselip gambar wanita dengan pakaian minim
(=seksi), walau dikemas dalam cerita heroik atau pembela kebenaran, tapi
sosok-sosok wanita tersebut tak pernah ketinggalan, bisa sebagai asisten sang
jagoan, pengawal atau bahkan hadiah yang akan diberikan kepada pihak lawan jika
dia kalah dalam game tersebut. Owhya?? Masa’ sehh?? Ya iyalah kita gak tau, kan
kita pingsan selama ini…, duhhhh. Menurut Donald Hilton, Jr, seorang ahli
kerusakan otak: otak anak yang mengalami kerusakan karena ketergantungan game
atau pornografi pada internet, bahayanya adalah dua kali dari ketergantungan terhadap narkoba !!!! Nah lhooo…,
ngeri ternyata ya.., duhh saya kemana aja selama ini jadi ayah atau Ibu?? Nilai lain yang terserap anak dari game-game tersebut
adalah terbentuknya ; Jiwa Teroris…!!! Segala permasalahan lalu bisa
diselesaikan dengan kekerasan, senjata, bom, dan sejenisnya. Jadi sebenarnya,
tak adalah hubungannya teroris dengan NII, tapi hubungannya dengan pemerintah
yang masih saja berdiam diri membiarkan game-game pembentuk teroris tumbuh
subur di depan anak-anak kita. atau tak usahlah sampai ke teroris, sebagian besar game online mengajarkan kekerasan, atau nilai-nilai premanisme, saling bis aberkuasa terhadap sesama. Maka jangan heran deh ketika anak-anak kita baru usia 7
atau 8 tahun tetapi sudah sangat pandai dalam menyetir atau memerintah bahkan
membentak ayah-ibunya?? Whuaaa bagaimana nanti ketika mereka sudah berumur 17
tahun..?? Akan lari ke manakah kita??
Sekedar
tambahan informasi yang bisa menambah kencang detak jantung dan dahi semakin
mengernyit; Yayasan Kita dan Buah Hati Kita juga melansir data bahwa sebanyak
67 persen dari 2.818 siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 4-6 mengaku pernah
mengakses informasi pornografi. Sebagian besar anak-anak belia itu melihat pornografi
melalui media komik. Data mengejutkan tersebut terungkap dari hasil survei
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di sejumlah SD di Indonesia sejak Januari 2008
hingga Februari 2010. Huuffhhhh……tentang pornografi pada anak mungkin sebaiknya saya bahas di artikel lain aja yaa...#gak cukup nih debarannya#
Lalu akan saya sembunyikan di
manakah anak-anak saya dari teknologi?? Owwhh bukan harus disembunyikan Bunda,
tapi kita hanya harus lebih waspada. Games juga bisa memberikan banyak manfaat
jika mampu memilih yang baik lho, misalnya akan melatih kemampuan koordinasi-senso
motorik anak, melatih kecepatan berfikir, melatih kemampuan bahasa inggris anak
juga tentunya kemampuan lebih trampil menggunakan komputer dan internet. Kita
harus cerdik dalam mempersilahkan teknologi masuk ke dalam rumah kita, yang
notabene akan merasuki anak-anak kita. Ada langkah-langkah sederhana yang bisa
dilakukan paling tidak untuk meminimalisir resiko kerugian, misalnya perhatikan letak komputer (tidak
menghadap dinding), diletakkan di area publik misal di ruang keluarga, lakukan
filterisasi terhadap situs porno (pasang alat atau system pemblokir), buat
kesepakatan tentang waktu bermain internet, dan secara berkala tolong di cek
situs apa saja yang telah dibuka anak di komputer.
Itu baru TV dan Internet, bagaimana
dengan yang lain, HP, komik atau kesalahan memilih teman bagi anak….?? Whuaaaa
ini pembaca sudah semakin berdegup kencang dadanya, oke akan saya lanjutkan di
artike yang lain saja ya. Yang ini kita fahami dulu, istighfar lalu
diamalkan…., ketika sudah selesai membaca tulisan ini, maka masihkah kita
menjadi orangtua yang sudah sangat lega bisa membelikan anak seperangkat
komputer lengkap dengan jaringan internetnya, dan juga sangat lega melihat sang
anak dengan sangat ‘tekun’ dan ‘serius’ khusyuk di depan komputernya di kamar…,
tak pernah lagi sang anak keluyuran keluar rumah….?? masihkah kita para Ayah
dan Bunda masih akan tetap pingsan sayang..?? Bangunlah…, sekali lagi: ketika
kita mati nanti, tak akan ditanya terus menerus siapa dan kenapa kita memilih
presiden atau walikota si A atau si B, tetapi kita akan diminta
pertanggungjawaban tentang : ANAK KITA.
So, Jangan Pingsan ya Ayah, Bunda, juga calon Ayah dan Bunda……, Bangunlah kesadaran kita bersama-sama betapa di luar
sana banyak sekali orang atau system yang akan meracuni fikiran anak-anak
kita….
Oleh : Bunda
Shinta
Jogja, 8 Mei
2011 jam 22.30
Big Thanks buat
Bunda Elly Risman, terimakasih telah menyadarkan kami….






Ngeri ternyata yaa..., selama ini saya termasuk salah satu orangtua yg pingsan...., sy juga sangat sering menikmati Televisi dan sibuk sendiri dengan Blackberry saya, ayo Bunda Cinta, berikan kami lagi lebih banyak obat yg bs membangunkan kami dari pingsan... (by Eko..., andai istriku sepertimu..., kamu sih dl menolak cintaku.., huhuhu...)
ReplyDeleteizin share ya bunda cinta .... terima kasih banyak
ReplyDelete