Ranking Bisa Menyiksa Anak ??
“Kamu
ranking berapa??”
Haaaa
masa’ sih kamu gak masuk sepuluh besar, kalah donk sama di Arni, dia ranking 3
lhoo.”
Anak
saya sih nilainya menurun, tapi Alhamdulillah rankingnya malah naik, dulu
ranking 12, sekarang ranking 5 lhooo, soalnya temen-temennya yang pinter
dipindah ke kelas sebelah.”
Hmmmm, cuplikan-cuplikan percakapan
di atas sering sekali kita temui di sekitar kita (atau mungkin oleh kita
sendiri). Sudah menjadi kebiasaan sejak puluhan tahun yang lalu, dunia
pendidikan kita terjebak sama yang namanya ranking. Para orangtua pun secara
fasih lalu mengartikan bahwa anak yang rankingnya di atas berarti dia anak yang
pandai atau cerdas, sebaliknya anak yang berada di ranking bawah pastilah anak
yang tidak pandai. Maka seakan-akan sudah menjadi kewajibanlah bagi para
orangtua ketika musim bagi raport atau kenaikan kelas tiba, pertanyaan yang
pertama kali diucapkan adalah: Ranking Berapa?? Baik ditujukan
kepada anak, sesama orangtua, ataupun kepada guru. Lalu yang terjadi
selanjutnya adalah sesama anak-anak atau antara orangtua saling membandingkan
anak satu dengan yang lainnya berdasarkan “RANKING”.
Miris…. Sampai kapan ya ini akan terjadi di dunia pendidikan kita??
Istilah Ranking sebenarnya awalnya
tentu bertujuan baik, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan akademis seorang
anak atau siswa di dalam kelas. Hal ini baik jika dengan menggunakan system
ranking tersebut kemudian siswa bisa memotivasi dirinya sendiri agar
keberadaannya di dalam kelas tersebut dapat diakui dan seberapa jauh mereka
dapat bersaing dengan teman-teman satu kelasnya. Keuntungannya buat guru atau
fihak sekolah salah satunya adalah: dengan mengetahui ranking seorang anak,
maka sekolah bisa memilih siswa tersebut jika pada suatu waktu sekolah akan
mengikuti kompetisi atau lomba yang harus diwakili oleh siswanya. Tetapi fungsi
ranking lalu berkembang menyimpang karena pemahaman yang tidak total dan
menelan bulat-bulat pe-ranking-an tersebut. Lalu siapa saja akan berlomba-lomba
untuk mendapatkan ranking terbaik. Sekolah bukan lagi menjadi tempat mencari ilmu, tetapi mencari predikat ranking, mencari nilai, Duhhhh...
Sudah seyogyanya para orangtua dan
guru bisa mengakses informasi ranking dari seorang anak dengan bijak. Bagi guru
atau sekolah, dalam menentukan ranking sebaiknya perlu ditinjau ulang, bahwa
tidak mutlak anak yang kemampuan akademisnya paling baik lalu akan menjadi
ranking 1, begitupun sebaliknya. Tetapi tentunya harus ditinjau dengan
komprehensif, tidak hanya nilai kognitif, tetapi juga melibatkan nilai-nilai
afektif dan psikomotorik. Apalah artinya seorang anak yang nilai akademisnya
selalu baik, tetapi anak tersebut tidak memiliki sikap mental yang baik,
misalnya egois, manja, tidak memiliki empati terhadap yang lain, tidak suka
bergaul, atau tidak sopan dalam menghargai teman-temannya. Pihak sekolah
semestinya memiliki tolok ukur yang holistic dalam nilai-nilai pendidikan
seorang anak. Karena jika tidak, maka siswa hanya akan berlomba mengejar nilai
kognitifnya saja, tidak lagi memperdulikan bagaimana caranya untuk mendapatkan
nilai tersebut (Ingat kasus siswa yang dikucilkan karena melaporkan kasus
mencontek massal di sekolahnya kan??...). Sekolah hendaknya tidak hanya
bertujuan menciptakan generasi yang cerdas secara akademis, tetapi juga cerdas
secara mental. Betapa bangganya kita jika sebagai guru atau orangtua dapat
melihat anak-anak yang memiliki mental juara, anak-anak yang tau caranya memecahkan masalah dengan melewati proses.
Bagi orangtua pun demikian, sudah
tidak perlu lagi pusing memikirkan ranking anaknya, karena hakikat sebenarnya
dalam pendidikan adalah agar anak bisa memahami proses-proses dalam pendidikan
dengan hati yang gembira. Apalah artinya seorang anak memiliki ranking yang
baik tetapi hidupnya selalu serasa dalam tekanan, tidak happy, karena merasa
harus selalu memenuhi target-target ranking yang ditetapkan oleh orangtuanya.
Lebih parah lagi, jika sang ortu dengan santainya membandingkan ranking anaknya
dengan anak lain yang jelas-jelas berbeda kelas dan berbeda sekolah. Apanya yang
akan dibandingkan Bu, Pak? Sementara kita tidak tau standar yang dipakai
sekolah-sekolah tersebut apakah sama atau berbeda-beda. Jadi, fair kah misalnya
jika seorang anak (ranking 5) dari sebuah sekolah berkualitas baik di kota
besar dengan jumlah siswa per kelas 30 orang, lalu dibandingkan dengan anak
lain dari sekolah di desa terpencil (ranking 1) dengan jumlah murid per kelas
hanya 10 orang…. Dan ketika makna ranking hanya ditelan mentah-mentah oleh
semua pihak, maka kita akan mengatakan bahwa si anak yang ranking 5 tentu lebih
bodoh dari anak yang ranking1….., lantas akan dibawa ke mana kah arah
pendidikan anak-anak kita kalau kita sebagai orang terdekatnya saja salah dalam
mengartikan predikat yang melekat padanya.
Keberhasilan seorang anak tidaklah
ditentukan dari ranking, tetapi dari sejauh mana anak-anak memahami lika-liku
pendidikan yang dialaminya setiap hari, yang akan membawanya ke dalam kualitas
kehidupan yang lebih baik. So, stop bicara tentang ranking ya…., kasihan
anak-anak kita yang sudah cukup tersiksa tiap hari ke sekolah dengan beban
berat di pundaknya (lihatlah anak-anak kita yang ke sekolah dengan membawa tas
ransel yang beratnya melebihi tas ayah ketika akan tugas keluar kota 3 hari…).
Tak cukupkah kita melihat pundaknya yang kecil itu menahan beratnya beban,
ditambah lagi dengan pertanyaan dan target kita setiap hari tentang nilai dan
ranking nya…?? Tak akan ada lagi anak-anak yang cemas menghadapi liburan karena
malu dan takut menghadapi pertanyaan dari para kerabat : Kamu Ranking berapa…????
Owwhhh tak ada lagikah pertanyaan lain, mengapa tak ada yang bertanya:
senangkah kamu di sekolah..?? Enjoy kah kamu Nak menikmati jejak - jejak langkah di sekolah yang masih akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan?
Ketika diri ini tak punya kekuasaan untuk
protes kepada siapa, sekolah, guru atau pemerintah, karena kecilnya suara kita,
tak ada lagi yang perlu disalahkan selain terus berkaca pada diri sendiri. Kita
memang belum bisa merubah system, maka pemahaman diri kitalah yang semestinya
dirubah. Sambil terus berusaha berbenah dan menberi masukan kepada banyak
pihak, benahilah diri sendiri ini sebagai orangtua, yang paling utama dan
pertama dalam menghargai dan menempatkan anak-anak secara manusiawi. Coba pelan-pelan
kita hadirkan dalam imajinasi kita seorang atau beberapa teman yang semasa
sekolah di SD, SMP, SMA atau waktu kuliah dulu adalah orang-orang dengan
ranking terbaik, dan mereka sekarang bukan siapa-siapa? Juga, bayangkanlah
sosok teman yg dulunya tak pernah menggenggam urutan ranking terbaik dalam catatan sejarah sekolahnya, tetapi sekarang
cemerlang dalam karir dan hidunya? So, kita tentunya sudah tau donk apa yang
semestinya kita lakukan pada anak kita…
Kalau
system dan kurikulum di sekolah sudah cukup menyiksa anak, masih tegakah kita
menambah penyiksaan kepada mereka? Apakah kita dulu juga selama di sekolah
selalu mendapat ranking terbaik? Sungguh, betapa bersyukurnya kita yang sudah
berhasil melewati fase-fase pendidikan kita di masa lalu, betapa kita yang
terheran-heran misalnya dengan materi pelajaran matematika kelas V SD sekarang yang
rasanya kita tak mampu untuk mengerjakannya… ayolah Nak, terus berjuang,
nikmati hari-hari indahmu di sekolah, Ayah-Bunda tak akan bicara tentang
ranking lagi.., tuntutlah ilmu dengan hatimu yang riang, Ayah-Bunda akan
mendukungmu, akan terus mendoakanmu.. Tuhan, tolong beri kami bahu-bahu yang
kuat untuk bisa menopang beratnya beban kehidupan yang ada di hadapan kami….. Maafkan kami ya Nak, Ayah-Bundamu yang masih saja sering berfikiran sempit dalam memandang luasnya dinamika hidupmu... Astaghfirullah al-adzim....
Oleh:
Bunda Shinta
Jogja,
selasa sore di Foodcourt UGM
Ingat
fenomena anak-anak yang bicara soal ranking dengan teman dan tetangganya..,
kalau bukan kita yang menolong anak-anak kita sendiri, lalu siapa lagi yang
akan peduli pada hatinya….
Pembahasan pada artikel ini tentunya masih sangat dangkal dan sempit, kami membuka ruang bagi pembaca untuk menambahkan sudut pandang lain dengan memberi komentar dan saling diskusi...
Matur Nuwun, lakukan apapun sebisa kita untuk mengembalikan anak-anak ke dunianya yang riang....
Pembahasan pada artikel ini tentunya masih sangat dangkal dan sempit, kami membuka ruang bagi pembaca untuk menambahkan sudut pandang lain dengan memberi komentar dan saling diskusi...
Matur Nuwun, lakukan apapun sebisa kita untuk mengembalikan anak-anak ke dunianya yang riang....






wah, padahal itu hal pertama yang pasti sy tanyakan ketika terima raport, gimana donk Bund??
ReplyDeleteKita coba dulu yuk merubah kebiasaan diri sendiri untuk tidak melihat ranking sebagai prioritas utama (Bund-shin)
DeleteIni Shinta, temanku yang sejak SD, SMP dan SMA dulu di Balikpapan dan macannya juara umum bukan?? Jempol2 buat kamu deh.. (aku Doni..., dl pernah naksir kamu tapi gak PD krn aku gak ranking).
ReplyDeleteehm ehm..., makasih Don.. (Bund-Shin)
Deletehmmmmmm gak salah juga ya... aku gak memikirkan anakku rangking berapa, hehehe... yang penting anak punya motivasi dan mandiri untuk belajar sendiri, dan dia punya target yang harus dia capai.... baru kalau gak terarah tugas kita sebagai ortu yang meluruskan.... GOOD LUCK buat Tante SHINTA.... Listiani
ReplyDeleteBenulll (bener n betull, hehe), wahh aku hrs belajar banyak dari Mahde List.., apalagi anak2 kita sekolah di tempat yg 'nilai akademis'nya kompetitif bangettt... (Bund-Shin)
Deletekadang miris dalam hati kalau mikirin beban pelajaran yang msti ditanggung anak-anak sekarang, seperti memelihara bom waktu... entah apa nanti kelak yang kita petik dimasa depan dengan anak-anak yang seperti kehilangan masa-masa bermain nya mesti menghabiskan waktu mereka dengan les disana dimari. gak ada lagi latihan menari, main bola sepuasnya di sore hari atau sekedar istirahat....
ReplyDeleteKrn kita gak b sprotes ke sekolah atau sistem atau kurikulum, ya kit abenahi mindset diri sendiri aja dl ya.. Semangat Bunda Irin (Bund-Shin)
DeleteSetuju ibu. Ketika awal-awal menjadi guru (maklum masih junior), saya selalu berpatokan kepada rangking. Saya rasakan sendiri dampaknya, saya menjadi tidak adil kepada murid saya tanpa saya sadari, saya menyesal luar biasa. Sekarang, saya benci merangking siswa, atau bahkan hanya sekedar membanding-bandingkan.
ReplyDelete