Friday, January 27, 2012

Ranking Bisa Menyiksa Anak ??


Ranking  Bisa  Menyiksa  Anak ??

“Kamu ranking berapa??”
Haaaa masa’ sih kamu gak masuk sepuluh besar, kalah donk sama di Arni, dia ranking 3 lhoo.”
Anak saya sih nilainya menurun, tapi Alhamdulillah rankingnya malah naik, dulu ranking 12, sekarang ranking 5 lhooo, soalnya temen-temennya yang pinter dipindah ke kelas sebelah.”

            Hmmmm, cuplikan-cuplikan percakapan di atas sering sekali kita temui di sekitar kita (atau mungkin oleh kita sendiri). Sudah menjadi kebiasaan sejak puluhan tahun yang lalu, dunia pendidikan kita terjebak sama yang namanya ranking. Para orangtua pun secara fasih lalu mengartikan bahwa anak yang rankingnya di atas berarti dia anak yang pandai atau cerdas, sebaliknya anak yang berada di ranking bawah pastilah anak yang tidak pandai. Maka seakan-akan sudah menjadi kewajibanlah bagi para orangtua ketika musim bagi raport atau kenaikan kelas tiba, pertanyaan yang pertama kali diucapkan adalah: Ranking Berapa?? Baik ditujukan kepada anak, sesama orangtua, ataupun kepada guru. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah sesama anak-anak atau antara orangtua saling membandingkan anak satu dengan yang lainnya berdasarkan “RANKING”. Miris…. Sampai kapan ya ini akan terjadi di dunia pendidikan kita??

            Istilah Ranking sebenarnya awalnya tentu bertujuan baik, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan akademis seorang anak atau siswa di dalam kelas. Hal ini baik jika dengan menggunakan system ranking tersebut kemudian siswa bisa memotivasi dirinya sendiri agar keberadaannya di dalam kelas tersebut dapat diakui dan seberapa jauh mereka dapat bersaing dengan teman-teman satu kelasnya. Keuntungannya buat guru atau fihak sekolah salah satunya adalah: dengan mengetahui ranking seorang anak, maka sekolah bisa memilih siswa tersebut jika pada suatu waktu sekolah akan mengikuti kompetisi atau lomba yang harus diwakili oleh siswanya. Tetapi fungsi ranking lalu berkembang menyimpang karena pemahaman yang tidak total dan menelan bulat-bulat pe-ranking-an tersebut. Lalu siapa saja akan berlomba-lomba untuk mendapatkan ranking terbaik. Sekolah bukan lagi menjadi tempat mencari ilmu, tetapi mencari predikat ranking, mencari nilai, Duhhhh...

            Sudah seyogyanya para orangtua dan guru bisa mengakses informasi ranking dari seorang anak dengan bijak. Bagi guru atau sekolah, dalam menentukan ranking sebaiknya perlu ditinjau ulang, bahwa tidak mutlak anak yang kemampuan akademisnya paling baik lalu akan menjadi ranking 1, begitupun sebaliknya. Tetapi tentunya harus ditinjau dengan komprehensif, tidak hanya nilai kognitif, tetapi juga melibatkan nilai-nilai afektif dan psikomotorik. Apalah artinya seorang anak yang nilai akademisnya selalu baik, tetapi anak tersebut tidak memiliki sikap mental yang baik, misalnya egois, manja, tidak memiliki empati terhadap yang lain, tidak suka bergaul, atau tidak sopan dalam menghargai teman-temannya. Pihak sekolah semestinya memiliki tolok ukur yang holistic dalam nilai-nilai pendidikan seorang anak. Karena jika tidak, maka siswa hanya akan berlomba mengejar nilai kognitifnya saja, tidak lagi memperdulikan bagaimana caranya untuk mendapatkan nilai tersebut (Ingat kasus siswa yang dikucilkan karena melaporkan kasus mencontek massal di sekolahnya kan??...). Sekolah hendaknya tidak hanya bertujuan menciptakan generasi yang cerdas secara akademis, tetapi juga cerdas secara mental. Betapa bangganya kita jika sebagai guru atau orangtua dapat melihat anak-anak yang memiliki mental juara, anak-anak yang tau caranya memecahkan masalah dengan melewati proses.

            Bagi orangtua pun demikian, sudah tidak perlu lagi pusing memikirkan ranking anaknya, karena hakikat sebenarnya dalam pendidikan adalah agar anak bisa memahami proses-proses dalam pendidikan dengan hati yang gembira. Apalah artinya seorang anak memiliki ranking yang baik tetapi hidupnya selalu serasa dalam tekanan, tidak happy, karena merasa harus selalu memenuhi target-target ranking yang ditetapkan oleh orangtuanya. Lebih parah lagi, jika sang ortu dengan santainya membandingkan ranking anaknya dengan anak lain yang jelas-jelas berbeda kelas dan berbeda sekolah. Apanya yang akan dibandingkan Bu, Pak? Sementara kita tidak tau standar yang dipakai sekolah-sekolah tersebut apakah sama atau berbeda-beda. Jadi, fair kah misalnya jika seorang anak (ranking 5) dari sebuah sekolah berkualitas baik di kota besar dengan jumlah siswa per kelas 30 orang, lalu dibandingkan dengan anak lain dari sekolah di desa terpencil (ranking 1) dengan jumlah murid per kelas hanya 10 orang…. Dan ketika makna ranking hanya ditelan mentah-mentah oleh semua pihak, maka kita akan mengatakan bahwa si anak yang ranking 5 tentu lebih bodoh dari anak yang ranking1….., lantas akan dibawa ke mana kah arah pendidikan anak-anak kita kalau kita sebagai orang terdekatnya saja salah dalam mengartikan predikat yang melekat padanya.

            Keberhasilan seorang anak tidaklah ditentukan dari ranking, tetapi dari sejauh mana anak-anak memahami lika-liku pendidikan yang dialaminya setiap hari, yang akan membawanya ke dalam kualitas kehidupan yang lebih baik. So, stop bicara tentang ranking ya…., kasihan anak-anak kita yang sudah cukup tersiksa tiap hari ke sekolah dengan beban berat di pundaknya (lihatlah anak-anak kita yang ke sekolah dengan membawa tas ransel yang beratnya melebihi tas ayah ketika akan tugas keluar kota 3 hari…). Tak cukupkah kita melihat pundaknya yang kecil itu menahan beratnya beban, ditambah lagi dengan pertanyaan dan target kita setiap hari tentang nilai dan ranking nya…?? Tak akan ada lagi anak-anak yang cemas menghadapi liburan karena malu dan takut menghadapi pertanyaan dari para kerabat : Kamu Ranking berapa…???? Owwhhh tak ada lagikah pertanyaan lain, mengapa tak ada yang bertanya: senangkah kamu di sekolah..?? Enjoy kah kamu Nak menikmati jejak - jejak langkah di sekolah yang masih akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan?

             Ketika diri ini tak punya kekuasaan untuk protes kepada siapa, sekolah, guru atau pemerintah, karena kecilnya suara kita, tak ada lagi yang perlu disalahkan selain terus berkaca pada diri sendiri. Kita memang belum bisa merubah system, maka pemahaman diri kitalah yang semestinya dirubah. Sambil terus berusaha berbenah dan menberi masukan kepada banyak pihak, benahilah diri sendiri ini sebagai orangtua, yang paling utama dan pertama dalam menghargai dan menempatkan anak-anak secara manusiawi. Coba pelan-pelan kita hadirkan dalam imajinasi kita seorang atau beberapa teman yang semasa sekolah di SD, SMP, SMA atau waktu kuliah dulu adalah orang-orang dengan ranking terbaik, dan mereka sekarang bukan siapa-siapa? Juga, bayangkanlah sosok teman yg dulunya tak pernah menggenggam  urutan ranking terbaik dalam catatan sejarah sekolahnya, tetapi sekarang cemerlang dalam karir dan hidunya? So, kita tentunya sudah tau donk apa yang semestinya kita lakukan pada anak kita…

Kalau system dan kurikulum di sekolah sudah cukup menyiksa anak, masih tegakah kita menambah penyiksaan kepada mereka? Apakah kita dulu juga selama di sekolah selalu mendapat ranking terbaik? Sungguh, betapa bersyukurnya kita yang sudah berhasil melewati fase-fase pendidikan kita di masa lalu, betapa kita yang terheran-heran  misalnya dengan materi pelajaran matematika kelas V SD sekarang yang rasanya kita tak mampu untuk mengerjakannya… ayolah Nak, terus berjuang, nikmati hari-hari indahmu di sekolah, Ayah-Bunda tak akan bicara tentang ranking lagi.., tuntutlah ilmu dengan hatimu yang riang, Ayah-Bunda akan mendukungmu, akan terus mendoakanmu.. Tuhan, tolong beri kami bahu-bahu yang kuat untuk bisa menopang beratnya beban kehidupan yang ada di hadapan kami….. Maafkan kami ya Nak, Ayah-Bundamu yang masih saja sering berfikiran sempit dalam memandang luasnya dinamika hidupmu... Astaghfirullah al-adzim....

Oleh: Bunda Shinta
Jogja, selasa sore di Foodcourt UGM
Ingat fenomena anak-anak yang bicara soal ranking dengan teman dan tetangganya.., kalau bukan kita yang menolong anak-anak kita sendiri, lalu siapa lagi yang akan peduli pada hatinya….

Pembahasan pada artikel ini tentunya masih sangat dangkal dan sempit, kami membuka ruang bagi pembaca untuk menambahkan sudut pandang lain dengan memberi komentar dan saling diskusi... 


Matur Nuwun, lakukan apapun sebisa kita untuk mengembalikan anak-anak ke dunianya yang riang....

9 comments:

  1. wah, padahal itu hal pertama yang pasti sy tanyakan ketika terima raport, gimana donk Bund??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita coba dulu yuk merubah kebiasaan diri sendiri untuk tidak melihat ranking sebagai prioritas utama (Bund-shin)

      Delete
  2. Ini Shinta, temanku yang sejak SD, SMP dan SMA dulu di Balikpapan dan macannya juara umum bukan?? Jempol2 buat kamu deh.. (aku Doni..., dl pernah naksir kamu tapi gak PD krn aku gak ranking).

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehm ehm..., makasih Don.. (Bund-Shin)

      Delete
  3. hmmmmmm gak salah juga ya... aku gak memikirkan anakku rangking berapa, hehehe... yang penting anak punya motivasi dan mandiri untuk belajar sendiri, dan dia punya target yang harus dia capai.... baru kalau gak terarah tugas kita sebagai ortu yang meluruskan.... GOOD LUCK buat Tante SHINTA.... Listiani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benulll (bener n betull, hehe), wahh aku hrs belajar banyak dari Mahde List.., apalagi anak2 kita sekolah di tempat yg 'nilai akademis'nya kompetitif bangettt... (Bund-Shin)

      Delete
  4. kadang miris dalam hati kalau mikirin beban pelajaran yang msti ditanggung anak-anak sekarang, seperti memelihara bom waktu... entah apa nanti kelak yang kita petik dimasa depan dengan anak-anak yang seperti kehilangan masa-masa bermain nya mesti menghabiskan waktu mereka dengan les disana dimari. gak ada lagi latihan menari, main bola sepuasnya di sore hari atau sekedar istirahat....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Krn kita gak b sprotes ke sekolah atau sistem atau kurikulum, ya kit abenahi mindset diri sendiri aja dl ya.. Semangat Bunda Irin (Bund-Shin)

      Delete
  5. Setuju ibu. Ketika awal-awal menjadi guru (maklum masih junior), saya selalu berpatokan kepada rangking. Saya rasakan sendiri dampaknya, saya menjadi tidak adil kepada murid saya tanpa saya sadari, saya menyesal luar biasa. Sekarang, saya benci merangking siswa, atau bahkan hanya sekedar membanding-bandingkan.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan pendapat atau komentar anda