Setiap Anak adalah Juara
Oleh
: Shinta, S.Pd., M.Si., M.A.
(Bunda
Cinta)
Suatu siang di sebuah arena
perlombaan tentang kegemaran membaca, dikemas dalam suatu event “Raja dan Ratu
Buku Tingkat Propinsi” …….., nama sebuah sekolah disebut beberapa kali dalam
setiap kategori, hingga akhirnya …..”dan juara umum diraih oleh…. Sekolah Dasar
Bla bla bla…. Yogyakarta…” Seketika ruangan membahana dengan gemuruh tepuk
tangan ungkapan syukur dan kebahagiaan.
Alhamdulillahirobbil’alaminnn….,
segala puji bagi Allah yang telah banyak sekali memberikan banyak karunia
kepada kita semua. Syukur tak terhingga kepada Allah yang senantiasa menguatkan
anak-anak kami dalam setiap lomba, baik mewakili pribadi maupun mewakili
sekolah. Jangankan sebagai peserta perlombaan, sebagai supporter ataupun
penonton ataupun hanya mendengar berita tentang kemenangan sekolah kitapun
rasanya sudah sangat membanggakan. Tetapi dalam setiap perlombaan, selalu ada
yang menang dan ada yang kalah. Itulah permainan, harus ada yang dimenangkan
dan harus ada yang dikalahkan pula. Nah dalam proses belajar, setiap anak
adalah juara, apakah maksudnya?? Mari kita bahas bersama-sama yukkk….
Setiap anak manusia lahir sebagai
pemenang. Benih janin yang tumbuh dan berkembang dalam rahim Ibu adalah dari
bibit terbaik, yang berhasil mengalahkan ribuan benih lain dari sel seorang
pria, lalu bertemu dengan sel telur seorang wanita. Jadi sejak di dalam
kandungan pun, kita ini sudah terbiasa berkompetisi, lalu lahir sebagai bibit
unggul yang punya banyak potensi.
Manusia adalah ciptaan Allah yang
sempurna, memiliki banyak kelebihan, di antaranya kemampuan berfikir (ulil
albab). Tinggal bagaimana setiap orang saja lah berusaha mengoptimalkan setiap
potensinya. Allah sungguh Maha Adil. Ketika seorang manusia diberi cobaan
memiliki kekurangan di salah satu panca indera, maka Allah melebihkan potensi
indera nya yang lain. Misalnya, seorang yang buta artinya tidak dapat melihat.
Tetapi Allah melebihkan padanya pendengaran yang kuat, atau melebihkan tajamnya
mata hati mereka sehingga mampu merasakan warna-warni sekelilingnya.
Ayo segeralah kita bercermin, untuk
segera menghitung-hitung, berapa nikmat Allah begitu lengkapnya yang sudah
diberikan kepada kita, tetapi mengapa sampai sekarang belum atau tidak
digunakan secara optimal. Tengoklah para juara-juara di setiap perlombaan,
mereka punya kaki, tangan, mata, telinga, yang jumlahnya sama dengan yang kita
miliki, tetapi mengapa diri ini masih saja santai tak melakukan apa-apa,,,,
Dalam psikologi, dikenal adanya Teori
Hierarki Kebutuhan, yang lebih dikenal dengan teori Maslow. Teori Maslow
menyatakan kebutuhan manusia yang paling rendah adalah kebutuhan biologis
seperti makan dan minum, sedangkan kebutuhan yang paling tinggi adalah
kebutuhan untuk mendapat penghargaan dan mengaktualisasikan diri. Salah satu
aspek dalam penghargaan dan aktualisasi diri adalah kebutuhan untuk
berprestasi. Kaitannya dengan anak-anak kita di sekolah, tugas orangtua dan guru
lah yang senantiasa tak bosan untuk memberikan motivasi dalam berprestasi.
Motivasi
merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan
arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam
kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak
mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas
belajar.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi
Intrinsik dan motivasi Ekstrinsik.
1.
Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari
dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas
dasar kemauan sendiri.
2.
Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai
akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau
paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan
sesuatu atau belajar.
Grafik
motivasi berprestasi setiap anak naik turun dengan dinamika yang berbeda-beda.
Bagi anak yang sudah matang, grafiknya lebih stabil, tetapi bagi anak yang
belum matang kondisi psikologisnya, maka diperlukan peran lebih dari orangtua
dan guru untuk senantiasa memotivasinya. Jangankan anak-anak yang memang masih
muda belia, bahkan para orang dewasa pun sering sekali memerlukan motivasi dari
oranglain untuk senantiasa semangat menghadapi tantangan.
Ayolah
para orangtua, teruslah semangat menjadi penyemangat anak-anak. Seyogyanya, tak
ada kata bosan dalam terus memotivasi anak. Sejatinya, tak ada anak yang
dilahirkan bodoh, hanya kitalah para orangtua yang masih belum cerdas dalam
menemukan kelebihan anak-anak kita. Hargailah setiap anak yang telah
berkompetisi melawan ego dan rasa tidak percaya dirinya sendiri, melawan rasa malu
dan sejenisnya. Dan ketika mereka berhasil mengalahkan rasa malas untuk mau
bangkit, maka saat itulah mereka telah menjadi pemenang.
Buat
anak-anak, tak ada alasan untuk tidak maju ya, tak ada alasan untuk tidak
berprestasi, lakukanlah yang terbaik dari setiap diri kalian, tak ada alasan
untuk minder. Kalian bisa terus bersaing dan berkompetisi dengan seluruh
teman-teman dari negri ini, bahkan di luar negri sekalipun, tak perlu pusing
memikirkan peringkat atau juara berapa yang akan diraih, tapi memaknai indahnya
proses perjuangan kalian itulah yang lebih utama. Kalian tentu akan memanen
dari apa-apa yang kalian pernah tanam. Percayalah Nak, kami para orangtua dan
juga guru, sangat bangga pada kalian semua, karena setiap dari kalian
adalah….Juara…..
Penulis
adalah Alumni Magister Psikologi
Universitas
Gadjah Mada, dan Direktur di
Bunda
Cinta Parenting Centre
(www.bundacinta.com)






0 comments:
Post a Comment
Silahkan tinggalkan pendapat atau komentar anda