Tuesday, November 13, 2012

Refleksi Hari Pahlawan 10/11/12


Jiwa Kepahlawanan Pada Anak, Tanggungjawab Siapa ?
Oleh : Shinta. S.Pd., M.Si., M.A.
(Bunda Cinta) *

“Sudirman boleh sakit, tapi Panglima tak boleh sakit”, demikian kalimat pertama yang terucap darinya, seorang Ibu yang sangat lembut, dengan mata berkaca-kaca beliau menceritakan semangat, sifat dan perjuangan Panglima Besar Jendral Sudirman semasa hidupnya. Ya, beliau adalah Ibu Tejaningsih, salah seorang cucu dari Pangsar Sudirman, saya mengenalnya ketika bersama-sama mengisi suatu seminar bertema “Pentingnya Menanamkan Jiwa Kepahlawanan Pada Anak”. Ayah beliau adalah putera pertama Sang Jendral Besar. Menurutnya, cerita kesederhanaan dan kebesaran jiwa Pak Dirman bisa menjadi inspirasi bagi para orangtua dan guru yang ingin menanamkan jiwa kepahlawanan pada anak. Pangsar Sudirman adalah pribadi yang sangat bersahaja dalam mendidik putra-putrinya.
Jiwa kepahlawanan seyogyanya bisa dimiliki oleh setiap orang, bisa ditumbuhkan pada diri seorang anak, bahkan ketika usianya masih dini. tidak hanya sebatas pada makna sempit seorang ‘pahlawan’. Mungkin sebagian besar anak-anak mengira bahwa pahlawan adalah beliau-beliau yang mendapatkan kesempatan untuk membela kemerdekaan bangsa ini. Padahal, setiap orang adalah pahlawan, minimal bagi diri dan kehidupannya sendiri. Dalam makna yang lebih luas, jiwa kepahlawanan dapat diasosiasikan sebagai sebuah rasa atau sikap yang menunjukkan daya juang yang tinggi. Tumbuh bersamanya adalah sikap tangguh, disiplin, mandiri, tanggungjawab, bangga dan cinta tanah air, saling menghormati, empati pada sesama, giat bekerja, rasa memiliki yang kuat terhadap lingkungannya, dan sebagainya.
            Menumbuhkan jiwa kepahlawanan pada anak adalah tanggungjawab bersama antara semuap pihak, baik dari orangtua, guru, lingkungan, media, bahkan pemerintah. Diumpamakan anak adalah seperti sebuah spon atau busa, yang akan meresap informasi disekitar dengan cepat dan sesuai daya tampung. Satu hal yang menjadi syarat untuk menumbuhkan jiwa kepahlawanan pada diri anak adalah tumbuhkan dulu rasa tersebut pada diri kita sebagai orang dewasa di sekeliling anak. Bagaimana mungkin kita akan menolong oranglain yang akan tenggelam kalau diri kita ini tak mampu berenang. Filosofinya adalah bagaimana mungkin kita berharap memiliki anak yang berjiwa pahlawan sementara nilai-nilai tersebut tak ada pada diri kita.
            Jiwa kepahlawanan dapat diasumsikan juga memiliki rasa nasionalisme. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh orangtua dan guru dalam menanamkan nilai nasionalisme, misalnya sejak dini mengenalkan tentang status kebangsaan atau warganegara, menggunakan bahasa Indonesia yang baik, mencintai budaya-budaya bangsa dan sejenisnya. Termasuk di dalamnya dapat melalui pengenalan lagu-lagu daerah atau dongeng cerita rakyat, tarian, film, acara televisi dan sejenisnya. Sudah sangat baik belakangan ini telah hadir film untuk anak-anak bertema nasionalisme, tapi rasanya jumlahnya masih sangat jauh di bawah derasnya gempuran film atau komik dari luar negeri. Ketika anak-anak ditanya tentang tokoh heroik idolanya, bisa dipastikan akan muncul nama-nama tokoh dari luar Indonesia dibandingkan tokoh-tokoh negeri ini. Nasionalisme pada anak tidak hanya sebatas pada hal-hal seremonial, tetapi lebih kepada pembiasaan hidup sehari-hari sehingga dapat merasuk ke dalam hati dan jiwa.
            Lalu dimanakah wajah ini akan kita sembunyikan, jika setiap hari yang dilihat anak di rumah adalah contoh tingkahlaku yang tidak mencerminkan rasa nasionalisme atau kepahlawanan, lagu-lagu dengan syair berbahasa asing, demam tarian negara tetangga, belum lagi dengan gaya dandanan dan barang-barang bermerk asing yang dipakai para orangtua. Ketika berharap media dapat menolong anak-anak kita, adakah berita tentang indahnya hidup saling menolong atau makna Bhinneka Tunggal Ika, jika yang didengar dan dilihat anak-anak adalah berita tentang tawuran, pertikaian antar suku, antar agama, korupsi, saling cerca antar partai politik, dan sejenisnya. Bagaimana membentuk jiwa-jiwa yang tangguh, jika para Ayah, Bunda atau Guru mudah menyerah bahkan berputus asa, atau di antaranya ada yang berkata sedang galau atau stress. Bagaimana mengajarkan anak memiliki empati dengan sesama jika para orangtua sibuk sendiri dengan gadget-nya. Sungguh, tak ada cara yang lebih efektif dalam menanamkan jiwa kepahlawanan pada anak, selain menjadikan diri kita sebagai suri tauladan yang baik.

*Penulis adalah alumni Magister Psikologi  
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Direktur Bunda Cinta Parenting Centre

0 comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pendapat atau komentar anda