Jiwa
Kepahlawanan Pada Anak, Tanggungjawab Siapa ?
Oleh
: Shinta. S.Pd., M.Si., M.A.
(Bunda
Cinta) *
“Sudirman
boleh sakit, tapi Panglima tak boleh sakit”, demikian kalimat pertama yang
terucap darinya, seorang Ibu yang sangat lembut, dengan mata berkaca-kaca
beliau menceritakan semangat, sifat dan perjuangan Panglima Besar Jendral
Sudirman semasa hidupnya. Ya, beliau adalah Ibu Tejaningsih, salah seorang cucu
dari Pangsar Sudirman, saya mengenalnya ketika bersama-sama mengisi suatu
seminar bertema “Pentingnya Menanamkan Jiwa Kepahlawanan Pada Anak”. Ayah
beliau adalah putera pertama Sang Jendral Besar. Menurutnya, cerita
kesederhanaan dan kebesaran jiwa Pak Dirman bisa menjadi inspirasi bagi para
orangtua dan guru yang ingin menanamkan jiwa kepahlawanan pada anak. Pangsar
Sudirman adalah pribadi yang sangat bersahaja dalam mendidik putra-putrinya.
Jiwa
kepahlawanan seyogyanya bisa dimiliki oleh setiap orang, bisa ditumbuhkan pada
diri seorang anak, bahkan ketika usianya masih dini. tidak hanya sebatas pada
makna sempit seorang ‘pahlawan’. Mungkin sebagian besar anak-anak mengira bahwa
pahlawan adalah beliau-beliau yang mendapatkan kesempatan untuk membela
kemerdekaan bangsa ini. Padahal, setiap orang adalah pahlawan, minimal bagi
diri dan kehidupannya sendiri. Dalam makna yang lebih luas, jiwa kepahlawanan
dapat diasosiasikan sebagai sebuah rasa atau sikap yang menunjukkan daya juang
yang tinggi. Tumbuh bersamanya adalah sikap tangguh, disiplin, mandiri, tanggungjawab,
bangga dan cinta tanah air, saling menghormati, empati pada sesama, giat
bekerja, rasa memiliki yang kuat terhadap lingkungannya, dan sebagainya.
Menumbuhkan jiwa kepahlawanan pada
anak adalah tanggungjawab bersama antara semuap pihak, baik dari orangtua,
guru, lingkungan, media, bahkan pemerintah. Diumpamakan anak adalah seperti sebuah spon atau
busa, yang akan meresap informasi disekitar dengan cepat dan sesuai daya
tampung. Satu hal yang menjadi syarat untuk menumbuhkan jiwa kepahlawanan pada
diri anak adalah tumbuhkan dulu rasa tersebut pada diri kita sebagai orang
dewasa di sekeliling anak. Bagaimana mungkin kita akan menolong oranglain yang
akan tenggelam kalau diri kita ini tak mampu berenang. Filosofinya adalah
bagaimana mungkin kita berharap memiliki anak yang berjiwa pahlawan sementara
nilai-nilai tersebut tak ada pada diri kita.
Jiwa
kepahlawanan dapat diasumsikan juga memiliki rasa nasionalisme. Banyak hal yang
dapat dilakukan oleh orangtua dan guru dalam menanamkan nilai nasionalisme,
misalnya sejak dini mengenalkan tentang status kebangsaan atau warganegara,
menggunakan bahasa Indonesia yang baik, mencintai budaya-budaya bangsa dan
sejenisnya. Termasuk di dalamnya dapat melalui pengenalan lagu-lagu daerah atau
dongeng cerita rakyat, tarian, film, acara televisi dan sejenisnya. Sudah
sangat baik belakangan ini telah hadir film untuk anak-anak bertema
nasionalisme, tapi rasanya jumlahnya masih sangat jauh di bawah derasnya gempuran
film atau komik dari luar negeri. Ketika anak-anak ditanya tentang tokoh heroik
idolanya, bisa dipastikan akan muncul nama-nama tokoh dari luar Indonesia
dibandingkan tokoh-tokoh negeri ini. Nasionalisme pada anak tidak hanya sebatas
pada hal-hal seremonial, tetapi lebih kepada pembiasaan hidup sehari-hari
sehingga dapat merasuk ke dalam hati dan jiwa.
Lalu
dimanakah wajah ini akan kita sembunyikan, jika setiap hari yang dilihat anak
di rumah adalah contoh tingkahlaku yang tidak mencerminkan rasa nasionalisme
atau kepahlawanan, lagu-lagu dengan syair berbahasa asing, demam tarian negara
tetangga, belum lagi dengan gaya dandanan dan barang-barang bermerk asing yang
dipakai para orangtua. Ketika berharap media dapat menolong anak-anak kita,
adakah berita tentang indahnya hidup saling menolong atau makna Bhinneka
Tunggal Ika, jika yang didengar dan dilihat anak-anak adalah berita tentang
tawuran, pertikaian antar suku, antar agama, korupsi, saling cerca antar partai
politik, dan sejenisnya. Bagaimana membentuk jiwa-jiwa yang tangguh, jika para
Ayah, Bunda atau Guru mudah menyerah bahkan berputus asa, atau di antaranya ada
yang berkata sedang galau atau stress. Bagaimana mengajarkan anak memiliki
empati dengan sesama jika para orangtua sibuk sendiri dengan gadget-nya. Sungguh, tak ada cara yang
lebih efektif dalam menanamkan jiwa kepahlawanan pada anak, selain menjadikan
diri kita sebagai suri tauladan yang baik.
*Penulis adalah
alumni Magister Psikologi
Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta
Direktur Bunda
Cinta Parenting Centre






0 comments:
Post a Comment
Silahkan tinggalkan pendapat atau komentar anda