Monday, July 30, 2012

Memasuki Tahun Ajaran Baru...


Ayo  Sekolah  Dengan  Happy…
-----------------------------------------------------------------
Oleh : Shinta, S.Pd., M.Si., M.A. (Bunda Cinta)

“Whuaaa besok sudah hari senin, harus sekolah lagi deh..”
“Hmmmm capek ya harus sekolah terus, aku sudah bosan sekolah…”
“Mama, hari ini aku ngga sekolah yaaa, perutku sakit, kepalaku pusing…”

Hmmm contoh-contoh kalimat di atas mungkin sering sekali kita dengar dari mulut anak-anak kita atau anak-anak usia sekolah pada umumnya. Ada satu makna yang dapat kita tangkap dari berbagai macam kalimat tersebut, bahwa sebagian besar anak-anak kita ternyata tidak senang dengan ‘sekolah’, karena menganggap kegiatan sekolah merupakan suatu beban yang memberatkan, sehingga anak-anak sering mencari seribu satu alasan agar bisa terhindar dari beban-beban tersebut.

‘Sekolah’ berasal dari kata schoole atau skolai (bahasa yunani) yang berarti ‘taman’. Karena itulah sekolah di Indonesia pada zaman Ki Hajar Dewantara disebut sebagai Taman Siswa. Jika kita membayangkan sebuah taman, tentu akan hadir sebuah pemandangan yang indah, penuh dengan bunga-bunga, rumput hijau, kupu-kupu, gemericik air, atau juga hembusan angin yang sejuk. Jika sedang berada di sebuah taman, tentunya serasa tak ingin pergi meninggalkan taman tersebut, ingin berada berlama-lama di dalamnya. Nah, tentunya begitulah suasana yang diharapkan oleh para pejuang pendidikan kita tentang makna dari sekolah (taman) tadi. Seyogyanya sekolah sebagai sebuah taman, anak-anak yang berada di sekolah semestinya semua memiliki rasa nyaman, senang, happy, dan ingin terus berlama-lama ada di dalamnya.

Lalu sudahkah sekolah anak-anak kita sekarang cukup layak jika disamakan dengan suasana sebuah taman..?? Jawabannya mungkin bervariasi, tetapi dari banyak kasus yang ditemui, dapatlah dianalisis sebuah fenomena sebagai berikut. Keberhasilan suatu proses pendidikan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain, diri siswa, orangtua / keluarga, lingkungan sekolah, dan system (kurikulum). Ketika kita tak punya kewenangan untuk turut serta dalam penentuan kebijakan pendidikan (alias menyusun kurikulum), maka tak perlu berkecilhati untuk tak bisa aktif dalam mewujudkan mimpi anak-anak sesuai harapan kita. Yang pertamakali harus dilakukan adalah merubah konsep diri pribadi setiap orangtua, yaitu cara pandang terhadap pendidikan seyogyanya dikembalikan ke dalam koridornya, yaitu bahwa sekolah sebenarnya adalah untuk mencari ilmu, tidak semata-mata hanya mencari nilai. Ketika sebagian besar orangtua tahu bahwa beban pendidikan anak-anaknya di sekolah tidaklah ringan, maka menjadi tidak bijaklah para orangtua ketika setiap hari justru menambah beban pada diri anak-anak, misalnya dengan memberikan standar / target yang tinggi terhadap pencapaian nilai anak-anak, atau memberikan tambahan les yang luar biasa banyaknya kepada anak-anak. Semestinya setiap orangtua tahu kapasitas dan kemampuan anaknya, tidak perlu memaksanya. Hal ini dapat tercapai jika terjadi komunikasi yang baik dan efektif antara anak dan orangtua. Dengan komunikasi yang baik, antara anak dan orangtua masing-masing bisa mengungkapkan pendapat dan keinginannya beserta alasan-alasannya, sehingga dapat dicari jalan tengah yang tidak ada unsur paksaan sama sekali. 

Jika orangtua sudah bisa cerdas menemukan cara atau trik dalam mengetahui kemauan dan kemampuan anaknya, maka seyogyanya anak-anak sudah tidak perlu lagi bosan menghadapi pertanyaan yang itu-itu saja dari orangtuanya setiap pulang sekolah, misalnya:
Tadi dapat nilai berapa di sekolah?
Tadi ulangannya salah berapa?
Ayo ada PR apa untuk besok, sore ini ngga usah main….
dst pertanyaan-pertanyaan sejenis….

Happy atau gembira adalah kata kunci yang tak bisa ditawar lagi bagi anak yang ingin berhasil dalam pendidikannya. Ketika rasa happy tak tercapai, maka tak ada gunanya bicara lebih jauh tentang sekolah. Apalah artinya mendapat nilai sepuluh setiap hari, jika anak belum merasa happy, bahkan merasa tersiksa atau tertekan. Rasa happy juga bisa menjadi kunci pembuka bagi anak yang ingin meningkatkan kualitas dirinya. Selain memiliki nilai akademik yang baik, anak yang happy bisa melatih kecerdasan emosionalnya dengan saling ber-empati terhadap kesulitan oranglain, happy juga bisa menjadi landasan anak untuk selalu tampil berani, percaya diri dan mandiri.

Guru-guru harus cerdas menciptakan suasana senang dalam kelas...

Bagaimana anak-anak akan sekolah dengan happy dan ceria jika para orang dewasa di sekelilingnya (orangtua dan guru) justru berperan dalam menciptakan ketakutan dan kecemasan dalam menjalani hari-hari di sekolah. Dengan cara yang cerdas, seharusnya orangtua dan guru bisa mencari cara agar sekolah bisa menjadi suatu kegiatan yang sangat disenangi anak-anak, diidam-idamkan dan selalu ingin sekolah. Sekolah bisa menjadi rumah kedua bagi anak-anak jika dibuat senyaman mungkin. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan nyaman dan hati yang gembira, maka tentu akan menghasilkan hasil yang luar biasa. Dunia anak-anak adalah dunia bermain, maka marilah Ayah-Bunda, Bapak dan Ibu Guru ciptakan suasana belajar di rumah dan sekolah layaknya suasana bermain, agar anak-anak selalu senang belajar. 

Jika masih di SD saja anak-anak sudah memiliki rasa bosan, malas atau takut pada sekolah, maka bisa dibayangkan betapa tersiksanya diri anak-anak kita dalam menjalani sisa kewajiban langkahnya dalam menempuh pendidikan. Perlu waktu berapa tahun lagi untuk senantiasa menyiksa anak dengan standar-standar yang tinggi? Ingatlah bahwa SD merupakan dasar atau fondasi bagi diri anak-anak untuk mencintai sekolah atau dunia belajar.

Buat anak-anak, ayoooo sekolah dengan hati yang happy, gembira dan ceria. Betapa beruntungnya nasib kalian yang bisa berpadu nafas dengan bangku sekolah, sementara di luar sana ada belasan, puluhan, ratusan bahkan ribuan anak hanya bisa bermimpi membayangkan manisnya suasana berbondong-bondong masuk ke kelas. Sekolah bukanlah sebuah beban, tapi sekolah sebuah proses yang bisa membantu dirimu untuk menjadi pribadi yang baik dalam banyak hal. Dengan sekolah, kalian di hari tua nanti bisa meraih apapun yang kalian inginkan. Nikmatilah segala tahapan yang dilewati sebagai untaian nada-nada merdu di hidupmu demi sebuah symphony yang indah. Melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam proses belajar itu wajar, yang penting semangat lagi untuk bangkit segera memperbaiki kesalahan. Yakinlah Nak, kami para Ayah-Bunda serta Bapak dan Ibu Guru adalah orang-orang yang senantiasa setia mendukungmu dan menjadi sandaran ketika tangan atau kaki kalian letih menahan beban. Ayooo sekolahhh dengan happy Nak…., berbahagialah dirimu menjadi bagian dari ‘taman’ kehidupan….

Penulis adalah Alumnus Magister Psikologi
Universitas Gadjah Mada, dan Direktur di
Bunda Cinta Parenting Centre
 (www.bundacinta.com)

0 comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pendapat atau komentar anda