Ayo Sekolah
Dengan Happy…
-----------------------------------------------------------------
Oleh
: Shinta, S.Pd., M.Si., M.A. (Bunda Cinta)
“Whuaaa
besok sudah hari senin, harus sekolah lagi deh..”
“Hmmmm
capek ya harus sekolah terus, aku sudah bosan sekolah…”
“Mama,
hari ini aku ngga sekolah yaaa, perutku sakit, kepalaku pusing…”
Hmmm
contoh-contoh kalimat di atas mungkin sering sekali kita dengar dari mulut
anak-anak kita atau anak-anak usia sekolah pada umumnya. Ada satu makna yang
dapat kita tangkap dari berbagai macam kalimat tersebut, bahwa sebagian besar
anak-anak kita ternyata tidak senang dengan ‘sekolah’, karena menganggap
kegiatan sekolah merupakan suatu beban yang memberatkan, sehingga anak-anak sering
mencari seribu satu alasan agar bisa terhindar dari beban-beban tersebut.
‘Sekolah’
berasal dari kata schoole atau skolai (bahasa yunani) yang berarti ‘taman’.
Karena itulah sekolah di Indonesia pada zaman Ki Hajar Dewantara disebut
sebagai Taman Siswa. Jika kita membayangkan sebuah taman, tentu akan hadir
sebuah pemandangan yang indah, penuh dengan bunga-bunga, rumput hijau,
kupu-kupu, gemericik air, atau juga hembusan angin yang sejuk. Jika sedang
berada di sebuah taman, tentunya serasa tak ingin pergi meninggalkan taman
tersebut, ingin berada berlama-lama di dalamnya. Nah, tentunya begitulah
suasana yang diharapkan oleh para pejuang pendidikan kita tentang makna dari
sekolah (taman) tadi. Seyogyanya sekolah sebagai sebuah taman, anak-anak yang
berada di sekolah semestinya semua memiliki rasa nyaman, senang, happy, dan ingin terus berlama-lama ada
di dalamnya.
Lalu
sudahkah sekolah anak-anak kita sekarang cukup layak jika disamakan dengan
suasana sebuah taman..?? Jawabannya mungkin bervariasi, tetapi dari banyak
kasus yang ditemui, dapatlah dianalisis sebuah fenomena sebagai berikut. Keberhasilan
suatu proses pendidikan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain, diri
siswa, orangtua / keluarga, lingkungan sekolah, dan system (kurikulum). Ketika
kita tak punya kewenangan untuk turut serta dalam penentuan kebijakan
pendidikan (alias menyusun kurikulum), maka tak perlu berkecilhati untuk tak
bisa aktif dalam mewujudkan mimpi anak-anak sesuai harapan kita. Yang
pertamakali harus dilakukan adalah merubah konsep diri pribadi setiap orangtua,
yaitu cara pandang terhadap pendidikan seyogyanya dikembalikan ke dalam
koridornya, yaitu bahwa sekolah sebenarnya adalah untuk mencari ilmu, tidak
semata-mata hanya mencari nilai. Ketika sebagian besar orangtua tahu bahwa
beban pendidikan anak-anaknya di sekolah tidaklah ringan, maka menjadi tidak
bijaklah para orangtua ketika setiap hari justru menambah beban pada diri
anak-anak, misalnya dengan memberikan standar / target yang tinggi terhadap
pencapaian nilai anak-anak, atau memberikan tambahan les yang luar biasa
banyaknya kepada anak-anak. Semestinya setiap orangtua tahu kapasitas dan
kemampuan anaknya, tidak perlu memaksanya. Hal ini dapat tercapai jika terjadi
komunikasi yang baik dan efektif antara anak dan orangtua. Dengan komunikasi
yang baik, antara anak dan orangtua masing-masing bisa mengungkapkan pendapat
dan keinginannya beserta alasan-alasannya, sehingga dapat dicari jalan tengah
yang tidak ada unsur paksaan sama sekali.
Jika
orangtua sudah bisa cerdas menemukan cara atau trik dalam mengetahui kemauan
dan kemampuan anaknya, maka seyogyanya anak-anak sudah tidak perlu lagi bosan
menghadapi pertanyaan yang itu-itu saja dari orangtuanya setiap pulang sekolah,
misalnya:
Tadi dapat nilai berapa di sekolah?
Tadi ulangannya salah berapa?
Ayo ada PR apa untuk besok, sore
ini ngga usah main….
dst
pertanyaan-pertanyaan sejenis….
Happy
atau gembira adalah kata kunci yang tak bisa ditawar lagi bagi anak yang ingin
berhasil dalam pendidikannya. Ketika rasa happy
tak tercapai, maka tak ada gunanya bicara lebih jauh tentang sekolah. Apalah
artinya mendapat nilai sepuluh setiap hari, jika anak belum merasa happy, bahkan merasa tersiksa atau
tertekan. Rasa happy juga bisa
menjadi kunci pembuka bagi anak yang ingin meningkatkan kualitas dirinya.
Selain memiliki nilai akademik yang baik, anak yang happy bisa melatih kecerdasan emosionalnya dengan saling ber-empati
terhadap kesulitan oranglain, happy
juga bisa menjadi landasan anak untuk selalu tampil berani, percaya diri dan
mandiri.
| Guru-guru harus cerdas menciptakan suasana senang dalam kelas... |
Bagaimana
anak-anak akan sekolah dengan happy
dan ceria jika para orang dewasa di sekelilingnya (orangtua dan guru) justru
berperan dalam menciptakan ketakutan dan kecemasan dalam menjalani hari-hari di
sekolah. Dengan cara yang cerdas, seharusnya orangtua dan guru bisa mencari
cara agar sekolah bisa menjadi suatu kegiatan yang sangat disenangi anak-anak,
diidam-idamkan dan selalu ingin sekolah. Sekolah bisa menjadi rumah kedua bagi
anak-anak jika dibuat senyaman mungkin. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan
nyaman dan hati yang gembira, maka tentu akan menghasilkan hasil yang luar
biasa. Dunia anak-anak adalah dunia bermain, maka marilah Ayah-Bunda, Bapak dan
Ibu Guru ciptakan suasana belajar di rumah dan sekolah layaknya suasana
bermain, agar anak-anak selalu senang belajar.
Jika
masih di SD saja anak-anak sudah memiliki rasa bosan, malas atau takut pada
sekolah, maka bisa dibayangkan betapa tersiksanya diri anak-anak kita dalam
menjalani sisa kewajiban langkahnya dalam menempuh pendidikan. Perlu waktu
berapa tahun lagi untuk senantiasa menyiksa anak dengan standar-standar yang
tinggi? Ingatlah bahwa SD merupakan dasar atau fondasi bagi diri anak-anak
untuk mencintai sekolah atau dunia belajar.
Buat
anak-anak, ayoooo sekolah dengan hati yang happy,
gembira dan ceria. Betapa beruntungnya nasib kalian yang bisa berpadu nafas
dengan bangku sekolah, sementara di luar sana ada belasan, puluhan, ratusan
bahkan ribuan anak hanya bisa bermimpi membayangkan manisnya suasana berbondong-bondong
masuk ke kelas. Sekolah bukanlah sebuah beban, tapi sekolah sebuah proses yang
bisa membantu dirimu untuk menjadi pribadi yang baik dalam banyak hal. Dengan
sekolah, kalian di hari tua nanti bisa meraih apapun yang kalian inginkan. Nikmatilah
segala tahapan yang dilewati sebagai untaian nada-nada merdu di hidupmu demi
sebuah symphony yang indah. Melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam proses
belajar itu wajar, yang penting semangat lagi untuk bangkit segera memperbaiki
kesalahan. Yakinlah Nak, kami para Ayah-Bunda serta Bapak dan Ibu Guru adalah orang-orang
yang senantiasa setia mendukungmu dan menjadi sandaran ketika tangan atau kaki
kalian letih menahan beban. Ayooo sekolahhh dengan happy Nak…., berbahagialah dirimu menjadi bagian dari ‘taman’
kehidupan….
Penulis
adalah Alumnus Magister Psikologi
Universitas
Gadjah Mada, dan Direktur di
Bunda
Cinta Parenting Centre
(www.bundacinta.com)






0 comments:
Post a Comment
Silahkan tinggalkan pendapat atau komentar anda