“Mbok
kamu tu seperti kakakmu, penurut, rajin belajar, gak banyak nuntut”
“Kapan
kamu tu bisa kayak sepupumu, ngomong gitu lho kalau ada maunya, gak diem trus
cemberut aja, sebel Ibu sama kamu”
“Tu
liat temenmu, mama pengen kamu kayak dia, jago matematika, kamu tu apaan
bisanya cuma nggambarrrr aja…”
Whuaaaa, mungkin kalimat-kalimat
seperti di atas hampir setiap hari kita ucapkan ke anak-anak atau murid-murid
kita. Artinya, kita selalu ingin anak kita menyerupai atau sama seperti anak
lain yang menurut pengamatan kita kualitasnya lebih baik. Tidak tahukah kita
selama ini bahwa setiap manusia (termasuk anak) itu adalah berbeda?? Seyogyanya
kita sudah bisa menyadari (dan mengamalkan) bahwa setiap anak adalah unik,
setiap anak dilahirkan dengan segenap kelebihan dan kekurangannya.
Kembalikanlah konsep ini kepada diri kita, apakah kita sama atau berbeda dengan
sosok ayah atau bunda-bund ayang lain. Berbeda kan..?? gimana ya perasaan kita
kalau anak kita yang mengatakan: “aku ingin Ibuku seperti Ibunya si Ria”, atau
“ pengen banget deh punya ayah seperti ayahnya si Reza, tetangga kita tu”.
Hmmmmm, bisa hancur lebur dan emosi tinggi deh ayah-bunda mendengar keinginan
anaknya seperti itu. kalau kita bisa membayangkan hati kita yang hancur lebur ketika mendengar kalimat seperti itu buat kita, lalu kenapa kita sering berikan kalimat-kalimat itu buat anak-anak kita.. Betapa menderitanya ya ternyata hati dan hidup anak-anak kita....
Sebagian besar dari kita mungkin
beranggapan bahwa anak yang pintar itu adalah anak yang penurut sama perintah
mama-papa dan gurunya, pintar matematika, dan nilai raportnya selalu minimal
rata-rata 8. Owhhh itu sih kreiteria ‘kecerdasan’ menurut versi Jadul (jaman
dulu) Bu, hehhee. Kalau versi yang modern nih definisi dan kriteria kecerdasan
diungkapkan melalui teori Multiple Intelligence atau dalam
bahasa kita dikenal sebagai Kecerdasan
Majemuk. Sesuai namanya, kecerdasan majemuk artinya indikator seorang anak
cerdas adalah majemuk (banyak), jadi bukan hanya indicator Matematika saja
sebagai ukuran (seperti yang kita tau selama ini). Teori ini pertama kali diajukan oleh Profesor Howard Gardner dari Universitas Harvard
pada 1983. Ia mengatakan bahwa “Kecerdasan
beraneka ragam dan dinamis, berkembang jauh melebihi linguistik dan potensi
logika-matematika yang secara tradisional diuji
dan dinilai di sekolah-sekolah”. Saat ini, teori Gardner
mengenai kecerdasan majemuk ini telah dipakai secara luas oleh para pendidik di
Amerika Serikat, Australia, Cina, Thailand, Philipina, Taiwan, dan
negara-negara lain. Gardner telah membuktikan bahwa kecerdasan terdiri dari
beberapa potensi kecerdasan, yaitu : (1) Kecerdasan Intelektual (IQ) terdiri
dari kecerdasan Linguistik dan Kecerdasan Logika Matematika, (2) Kecerdasan
emosional (EQ) terdiri dari Kecerdasan Intrapersonal dan Kecerdasan
Interpersonal, (3) Kecerdasan Kreativitas (CQ) terdiri dari Kecerdasan Gerak
Tubuh / Kinestetik dan Kecerdasan Visual-Spatial, (4) Kecerdasan Adversitas (AQ)
terdiri dari Kecerdasan Musikal dan Kecerdasan Naturalis (Psikologi
Perkembangan, Monks-Koers, edisi 2004). Penjelasan tentang multiple intelligence ini akan panjangggg sekali (akan saya bahas
di artikel lain saja), sudah banyak sekali penelitian yang membuktikan
kebenaran teori ini. Hmm dengan melihat isi dari kescerdasan majemuk itu,
kira-kira anak kita memiliki kecerdasan menonjol yang mana yaaaa..???
| Baju kami boleh sama, tapi kami ini 'berbeda' lho... |
Intinya adalah, teori multiple intelligence ingin mengajak
orangtua untuk memandang anak secara manusiawi, bahwa setiap anak adalah
karunia dari Allah dengan potensinya masing-masing. Setiap anak memiliki
kecerdasan majemuk dengan kadar dan porsi yang berbeda-beda. Jadi sebenarnya
tak ada anak yang tak cerdas. Tinggal orangtuanya sajalah yang belum cerdas
menemukan kecerdasan / kelebihan anaknya. So, kalau selama ini kita sibuk
memikirkan bagaimana cara anak kita bisa seperti anak orang lain, kenapa gak
kita manfaatkan waktu kita untuk mulai berfikir (dan action tentunya) bagaimana cara mengoptimalkan kecerdasan anak
kita. Baju kami boleh sama, tetapi potensi kami berbeda-beda lho… Tak perlu
pusing lagi memaksa anak untuk jago matematika, kalau anak memang suka
menggambar atau main music, ayo kita kembangkan saja. Begitu juga di bidang
yang lain. Bukankah melihat anak menjadi pelukis atau pemusik terkenal akan
jauh lebih membanggakan dibanding melihat anak stress karena seumur hidupnya
dipaksa belajar yang ia tidak suka??
Kalaupun Ayah-Bunda merasa perlu menjadikan anak lain sebagai contoh, sah-sah saja selama itu dilakukan untuk memberi motivasi, bukan agar menjadikan anak kita seperti anak lain tersebut. katakanlah sesekali saja, rangkailah dalam kalimat yang membangun, bukan menjatuhkan, dan yang terpenting tidak perlu melakukan itu setiap hari sepanjang waktu. Rasanya siapa pun di dunia ini tak ada yang suka untuk dibanding-bandingkan...
Kalaupun Ayah-Bunda merasa perlu menjadikan anak lain sebagai contoh, sah-sah saja selama itu dilakukan untuk memberi motivasi, bukan agar menjadikan anak kita seperti anak lain tersebut. katakanlah sesekali saja, rangkailah dalam kalimat yang membangun, bukan menjatuhkan, dan yang terpenting tidak perlu melakukan itu setiap hari sepanjang waktu. Rasanya siapa pun di dunia ini tak ada yang suka untuk dibanding-bandingkan...
Ayolah Ayah, Bunda, kalau mau punya
anak yang cerdas, kita ya harus cerdas juga donk, tau cara-cara cerdas
mengoptimalkan potensi anak, mau menerima saran dari orang lain, mau belajar
dan banyak membaca tentunya. Dengan memahami konsep ini, seyogyanya sudah tak
ada lagi orangtua yang stress karena merasa putus asa mengarahkan anaknya. Mau
stress bagaimana pun, kita tak bisa mundur dari profesi kita sebagai ORANGTUA.
Kalau kita bosan dengan pekerjaan di kantor, kita bisa ajukan resign, tapi kalau bosan dan stress jadi
orangtua?? whuaaa mau mundur n resign ke siapa?? Tetap gak bisa mengundurkan diri kan…?? Kecuali kalau liang kubur sudah siap untuk kita tempati. So, ayo kita nikmati saja profesi ini.
Kalimat 'tamparan' ini saya dapatkan ketika saya belajar dari seorang teman, inspirator,
pakar pendidikan, yang juga Boss di sebuah perusahaan besar, Bpk Teguh Sunaryo.
Beliau sering sekali mengatakan bahwa sebagai orangtua kita sering melihat
rumput tetangga yang sering nampak lebih hijau, dibandingkan menghijaukan
rumput kita sendiri. Hmmm, semoga kalimat-kalimat sederhana ini bisa kita
maknai dengan penuh arti.
Oleh : Bunda Shinta
- · Terimakasih sekali buat Bpk. Teguh Sunaryo yang banyak sekali memberi pelajaran dan inspirasi kepada saya tentang dunia parenting. Saya amalkan ilmunya Pak.
- · Teori Howard Gardner dari buku Psikologi Perkembangan Anak (Monks-Knoers, 2004).






Bun, kalo kesel sama anak itu kadang susah ngontrol omongan yg keluar dr mulut, lagian si anak buat salahnya itu2 aja gimana donk???
ReplyDeletekalo di ingatkan jawabnya wah lupa Yah..selalu begitu...
misal: Mas kalo selesai mandi ya mbok bajunya langsung di taruh di mesin cuci sana.
koq harus diingatkan teus kaya' anak kecil aja...
boleh ga kita ngomong gitu ke anak2...
makasih Bun,curahat nihhhh......hehehe
( Rahmans)