Energi Bisa
Menular Lho…
Energi Bisa Menular Lho…. Haaaa?? Ada-ada
aja.. eh baca dulu ini pelan-pelan.. Ya, energy memang bisa menular layaknya
sebuah penyakit. Kalau bicara energy dalam dunia psikologi tentunya berkaitan dengan
energy manusia, baik berupa energy positif maupun energy negatif. Ketika terlintas akan menulis tentang energy yang
menular ini, saya sebenarnya teringat sama seorang dosen saya di Fakultas
Psikologi Universitas Gadja Mada, beliau mengajar Psikologi Sosial, sangat
sederhana profilnya, tapi berkesan buat saya. Waktu di kelas beliau, saya
mendapat tugas presentasi tentang materi “Perilaku Prososial dan Altruisme”. Banyak
hal dan teori yang dibahas dalam topik tersebut, lengkap dengan jurnal-jurnal
hasil penelitian, antar alain latar belakang orang saling mengembangkan
hubungan pro-sosial dengan yang lain, faktor-faktor yang mempengaruhi, dsb. Satu
kalimat kunci yang sangat melekat di benak saya adalah “ternyata energy sangat
bisa menular”.
![]() |
| Senyum sejuta makna yang bisa menular |
Ketika di’kawinkan’ dengan dunia
psikologi pendidikan atau psikologi perkembangan, konsep energy menular (dalam Psikologi Sosial) ini
ternyata sangat pas. Maksudnya begini, dengan siapapun anak berinteraksi, energy
yang diberikan oranglain kepadanya bisa dengan cepat diserapnya, bahkan tanpa
disuruh. Apalagi kalau orang tersebut memiliki kelekatan terhadap anak. Manusia
cenderung otomatis menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan paling mudah
terbentuk di masa anak-anak. Para orangtua masih banyak yang belum sadar bahwa energy
yang dimiliki anaknya sedikit banyak sebenarnya mencerminkan dari energy yang
diserap anaknya dari orang terdekatnya sehari-hari, dalam hal ini kemungkinan
besar adalah orangtuanya. karena itulah tugas orangtua untuk memberikan lingkungan yang baik kepada anak, agar lingkungan tersebut mampu mentransfer atau menulari energi-energi positifnya. Anak menerima energy yang dipancarkan orang lain
melalui panca indranya, dan di antara pancaindranya tersebut ada yang memiliki
power terkuat. Misalnya, umumnya anak-anak lebih kuat responnya terhadap apa
yang dilihatnya (=mata) dibanding apa-apa yang didengarnya (=telinga).
Dengan memahami konsep ini
seyogyanya seorang Ibu tak perlu lagi pusing memikirkan cara kenapa anaknya
susah sekali untuk menuruti kata-katanya. Contohnya : bagaimana mungkin seorang
anak diminta terus–menerus untuk mandiri, melakukan apa-apa sendiri (hal teknis
sehari-hari), kalau di saat yang bersamaan si anak selalu melihat ayahnya sama
sekali tidak mandiri (misal ketika mau minum sang ayah teriak minta diambilkan
minum, mau pake sepatu minta diambilkan, dsb). #Cape’ dechhhh# Itulah yang dikatakan tidak sejalan antara
mata dan telinganya.
Konsep ‘energy menular’ yang
disampaikan dosen Idola saya tersebut juga menyatakan bahwa ketika kita berada
dalam keadaan bahagia (good-mood), akan mudah menerima hal-hal yang dikatakan,
begitu sebaliknya. Hmmmm, saya aplikasikan dalam dunia parenting; tak ada
gunanya seorang Ibu panjang lebar menasehati atau ngomel-ngomel kepada anak di
saat mood anak sedang buruk (misalnya sedang kesal, capek, menangis, setelah
melakukan kesalahan lalu dimarahi, takut, cemas, dsb perasaan-perasaan negatif).
Lebih baik ditunggu sebentar, lalu biarkan anak beristirahat, ketika mood anak
sudah pulih boleh deh si Ibu memulai ‘kuliahnya’. Tetapi para orangtua
(termasuk saya mungkin) tak mau peduli bagaimana mood anak saat itu, yg penting
orangtua bisa plong mengungkapkan kemarahan atau kekesalannya. Wahh padahal
ternyata itu sia-sia ya….. (abisnya kalau marahnya nanti, takut gak semangat
lagi.., duhhhh).
Dengan konsep ‘energy menular’, kita
bisa lho membuat anak-anak kita menjadi anak-anak luar biasa. Caranya..?? ya tentu saja dengan
menjadikan diri kita dulu sebagai orang yang luar biasa, punya kepribadian
excellent, dsb, lalu dekati anak, samakan frekuensinya, nada bicara dan ritme
agak direndahkan, maka yakin deh sang anak akan mau mendengarkan orangtua. Anak
hanya memperlihatkan hasil panen dari apa-apa yang ditanam orangtuanya.
Anak
yang dibesarkan dengan kemarahan, ketika dewasa akan jadi pemarah
Anak
yang dibesarkan dengan kasihsayang, ketika dewasa akan penuh kelembutan
Anak
yang dibesarkan dengan ditakut-takuti, ketika dewasa akan jadi penakut
Anak
yang dibesarkan dengan ancaman, ketika dewasa akan penuh dengan kekhawatiran
Anak
yang dibesarkan dengan cinta, ketika dewasa akan jadi orang yang baik dan penuh
cinta.
Kalau ayah-bunda belum siap untuk
jadi pribadi positif, artinya bersiaplah anak-anak tak akan ditulari energy positif
tersebut, lalu energy siapakah yang akan menular pada anak-anak?? Tinggal pilih
saja, apakah energy dari televisi, energy dari warnet, game, komik, atau energi
dari teman-temannya. Semua tergantung cara dan trik orangtua. Relakah kita
kalau orang-orang atau system yang tidak memberi kontribusi akan jaminan
kehidupan anak-anak kita di masa depan kita serahi tugas untuk menularkan
energinya saat ini…?? Owhhhh Big-Noooo, Pilihkan orang atau lingkungan terbaik yang
akan menulari high-quality energy
buat buah hati kita…
Jogja,
15 Juli 2011
Rasa
hormat yang dalam buat Pak Fauzan Heru Santhoso, dosen terbaik saya, terimakasih
ya Pak sudah menulari saya energy positif
Bapak. Sehat dan Sukses selalu buat Bapak.







Hebat ih mba Shint, karena idolanya terhadap seorang dosen bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan yang ada 'value'nya, sukses terus ya..., sayang banget ya di antara kita lulusan Pasca Psikologi kalau yang masih banyak belum bisa mengamalkan ilmunya... (Lyta-Jogja)
ReplyDelete