Ibuku Paranormal…
Seorang gadis 15 tahun duduk di sudut
ruangan dengan wajah seolah-olah ingin menenggelamkan seluruh wajahnya ke
lubang paling dalam, lehernya nampak berusaha ditekuk semaksimal mungkin,
dengan wajah dan tatapan kosong, cuek. Sementara di ruangan yang berbeda tampak
Ibunya, separuh baya, bicara dengan semangat 45, tanpa koma….dan bakal tanpa
titik nih kalau tak cepat-cepat menyelanya dengan basa-basi mempersilahkan
minum. “Wah pusing deh pokoknya ni anak, gak mau bicara sama sekali, blassss,
sepatah pun tidak. Pulang sekolah masuk kamar, waktunya makan ya makan, abis
itu masuk lagi, diam seribu bahasa, saya bingung anak saya ni maunya gimana…?
Tolong deh bu diselesaikan masalah ini. Saya maunya anak saya bisa bicara lagi,
dia gak gagu koq. Ehmmmm..
Tak perlu waktu lama ternyata untuk
membuat sang gadis tersenyum, ehmm langkah awal yang bagus ni. Lalu…. Bla bla bla,
cerita dari saya mengalir begitu saja, pelan-pelan, sesekali saya selipi
pertanyaan.., eehh dia mengangguk, menggeleng (padahal menurut ibunya sudah 2
tahun ini si gadis cilik tak merespon apapun pertanyaan dari ibunya), 10 menit
kemudian dia bisa berkata Ya, atau Gak, begitu seterusnya, sampai
kelihatannya dia sangat nyaman, bisa ketawa lumayan panjang koq ni anak…,
sampailah saya ke pertanyaan yang agak krusial : Apa saja kira-kira pertanyaan
dari Ibu yang gak ingin kamu jawab, ternyata jawabannya sungguh menggebrak hati
saya (sekaligus menjawab pertanyaan mengapa walau sengaja tak saya tanyakan).
Jawabannya hanya singkat, dengan ekspresi sejuta makna ; Ibuku Paranormal…
Whattt?? Hampir tak tertahan ekspresi kaget saya. Tak
ada kata-kata lagi. Sampai seminggu kemudian setelah hubungan intens dan
harmonis antara kami semakin terjalin, sampailan saya pada pemahaman lengkap episode
“Ibuku Paranormal” tersebut. Terjawablah sudah latar belakang kenapa si anak
bertahun-tahun melakukan aksi mogok bicara. Baginya, cukup sudah waktu hampir
10 tahun dilakoniny aperan sebagai anak dari seorang paranormal. Betapa hampir
runtuh pertahanan air mata saya ketika mendengarkan ceritanya. Betapa sangat
terbiasa dia sejak balita dengan kata-kata ibunya :
“sudah
gak usah banyak ngomong, Ibu sudah tau kamu mau bicara apa…”
“tuh
kan bener, Ibu sudah duga pasti kamu mau minta itu…”
“Ibu
gak minta pendapatmu, Ibu sudah tau koq..”
“nanti
kalau ada temen Ibu datang, kamu gak usah banyak tanya”
“Lahhh
ini anak koq apa-apa ditanyain, bukan urusanmu lah..”
“Stop,
kalau orangtua lagi bicara gak usah dipotong”
Owwwhhh.., gitu ya. //Jadi buat saya
sudah gak perlu lagi lah untuk mengatakan apa-apa pada Ibu, karena Ibu pasti
sudah tau semua koq apa mau saya, dari saya kecil kan Ibu selalu bilang begitu,
selalu benar tebakan Ibu terhadap apa yang saya inginkan atau saya fikirkan.
Jadi buat apa saya capek-capek bicara, toh gak ada gunanya buat Ibu. Ibuku paranormal kan...// Ehmm,
kalau Ibu kasi pertanyaan juga gak mau dijawab? // hmm, dulu rasanya Ibu gak
pernah sama sekali kasi saya pertanyaan,
Ibu hanya kasi pernyataan, harus
ini, harus itu, titik. Jadi saya sekarang saya merasa aneh kalau Ibu tiba-tiba
kasi pertanyaan dan saya harus menjawab, kalaupun saya jawab paling juga
jawaban saya tak akan dipakai Ibu…
Sebuah episode Ibu-anak dari cerita
di atas buat saya sangat mengharu-biru, cukup membawa angan saya kembali ke
rumah. Seperti itukah saya kepada anak-anak saya.., atau Ibu-ibu di sekitar
saya begitu pada anaknya…, otoriter kah kita? sudah cukupkah kita selama ini memberi ruang pada
anak-anak kita untuk bicara mengungkapkan pendapat atau perasaannya…Bagaimana
kalau anak kita sendiri yang berkata bahwa Ibunya seorang paranormal karena tau
semua isi hati anak-anak.. kira-kira apa respon kita ya kalau anak-anak berani
berkata : Ibu Paranormal yaaa..?? mungkin kita harus segera lari ke depan
cermin, bukankah tak ada orang yang bisa tau isi hati seseorang walau itu
anaknya sekalipun.., lalu berfikir kenapa Allah memberi saya dua telinga dan
hanya satu mulut?? Bukankah itu artinya saya harus lebih banyak mendengar
daripada saya yang bicara…., tak usah dalam masalah yang kompleks diluar sana,
cukup gunakan dua telinga ini untuk mendengarkan suara anak-anak kita sendiri,
ini menentukan hari depannya Bunda…
Oleh:
Bunda Shinta
Puri
Melati, 26 Oktober 2011
Bertahun-tahun
aku merindukan status sebagai seorang Ibu,
kini ketika status itu sudah
kusandang,
sudah layakkah peran Ibu ini buat anak-anakku…
Wallahua'lam






Hmmm, baru menyadari kl selama ini sy sering praktek paranormal ilegal thdp anak saya....
ReplyDeleteternyata begitu pentingnya memberi kesempatan berbicara pada anak2...
ReplyDeletedan ortu harus bisa menerima ya walau ortunya dah tau ...
pentingnya mendengarkan celoteh / ekspresi anak2....
(Rachmans)