Thursday, January 19, 2012

Energi Bisa Menular Lho...


Energi  Bisa  Menular  Lho…

            Energi Bisa Menular Lho…. Haaaa?? Ada-ada aja.. eh baca dulu ini pelan-pelan.. Ya, energy memang bisa menular layaknya sebuah penyakit. Kalau bicara energy dalam dunia psikologi tentunya berkaitan dengan energy manusia, baik berupa energy positif maupun energy negatif.  Ketika terlintas akan menulis tentang energy yang menular ini, saya sebenarnya teringat sama seorang dosen saya di Fakultas Psikologi Universitas Gadja Mada, beliau mengajar Psikologi Sosial, sangat sederhana profilnya, tapi berkesan buat saya. Waktu di kelas beliau, saya mendapat tugas presentasi tentang materi “Perilaku Prososial dan Altruisme”. Banyak hal dan teori yang dibahas dalam topik tersebut, lengkap dengan jurnal-jurnal hasil penelitian, antar alain latar belakang orang saling mengembangkan hubungan pro-sosial dengan yang lain, faktor-faktor yang mempengaruhi, dsb. Satu kalimat kunci yang sangat melekat di benak saya adalah “ternyata energy sangat bisa menular”.


Senyum sejuta makna yang bisa menular
  Kali ini tentu saja saya tidak akan mengulang menulis makalah tersebut, saya mencoba menuangkan intisari materinya dengan menggunakan bahasa saya. Saya baru menyadari saat itu bahwa penularan energy antar sesama individu sudah dimulai ketika kita masih bayi. Umumnya bayi sudah memiliki rasa empati, bahkan ketika berumur satu tahun, ketika melihat bayi lain menangis atau menahan sakit, bayi yang lain sudah memiliki usaha untuk sekedar meraba, menepuk-nepuk atau memeluk temannya. Dari penelitian dilaporkan bahwa keinginan untuk menyenangkan orang lain dan mendahulukan kepentingan umum sudah ada sejak di umur-umur awal kehidupan manusia. Lalu ketika dalam perkembangannya banyak di antara kita yang sudah tidak lagi memiliki rasa empati terhadap manusia yang lain tentunya karena kurangnya dukungan sosial dan lemahnya konsep diri kita. Bayangkan ketika kita bertemu dengan orang yang wajahnya ceria dan sumringah, tanpa kita sadari senyum yang diberikannya juga akan membuat bibir kita ikut tersenyum, tapi bayangkan kalau kita ketemu orang yang jutek, cemberut, hemmm kitanya jadi ikut-ikutan cemberut dan badmood kan….

            Ketika di’kawinkan’ dengan dunia psikologi pendidikan atau psikologi perkembangan, konsep energy menular (dalam Psikologi Sosial) ini ternyata sangat pas. Maksudnya begini, dengan siapapun anak berinteraksi, energy yang diberikan oranglain kepadanya bisa dengan cepat diserapnya, bahkan tanpa disuruh. Apalagi kalau orang tersebut memiliki kelekatan terhadap anak. Manusia cenderung otomatis menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan paling mudah terbentuk di masa anak-anak. Para orangtua masih banyak yang belum sadar bahwa energy yang dimiliki anaknya sedikit banyak sebenarnya mencerminkan dari energy yang diserap anaknya dari orang terdekatnya sehari-hari, dalam hal ini kemungkinan besar adalah orangtuanya. karena itulah tugas orangtua untuk memberikan lingkungan yang baik kepada anak, agar lingkungan tersebut mampu mentransfer atau menulari energi-energi positifnya. Anak menerima energy yang dipancarkan orang lain melalui panca indranya, dan di antara pancaindranya tersebut ada yang memiliki power terkuat. Misalnya, umumnya anak-anak lebih kuat responnya terhadap apa yang dilihatnya (=mata) dibanding apa-apa yang didengarnya (=telinga).

            Dengan memahami konsep ini seyogyanya seorang Ibu tak perlu lagi pusing memikirkan cara kenapa anaknya susah sekali untuk menuruti kata-katanya. Contohnya : bagaimana mungkin seorang anak diminta terus–menerus untuk mandiri, melakukan apa-apa sendiri (hal teknis sehari-hari), kalau di saat yang bersamaan si anak selalu melihat ayahnya sama sekali tidak mandiri (misal ketika mau minum sang ayah teriak minta diambilkan minum, mau pake sepatu minta diambilkan, dsb). #Cape’ dechhhh#  Itulah yang dikatakan tidak sejalan antara mata dan telinganya.

            Konsep ‘energy menular’ yang disampaikan dosen Idola saya tersebut juga menyatakan bahwa ketika kita berada dalam keadaan bahagia (good-mood), akan mudah menerima hal-hal yang dikatakan, begitu sebaliknya. Hmmmm, saya aplikasikan dalam dunia parenting; tak ada gunanya seorang Ibu panjang lebar menasehati atau ngomel-ngomel kepada anak di saat mood anak sedang buruk (misalnya sedang kesal, capek, menangis, setelah melakukan kesalahan lalu dimarahi, takut, cemas, dsb perasaan-perasaan negatif). Lebih baik ditunggu sebentar, lalu biarkan anak beristirahat, ketika mood anak sudah pulih boleh deh si Ibu memulai ‘kuliahnya’. Tetapi para orangtua (termasuk saya mungkin) tak mau peduli bagaimana mood anak saat itu, yg penting orangtua bisa plong mengungkapkan kemarahan atau kekesalannya. Wahh padahal ternyata itu sia-sia ya….. (abisnya kalau marahnya nanti, takut gak semangat lagi.., duhhhh).

            Dengan konsep ‘energy menular’, kita bisa lho membuat anak-anak kita  menjadi anak-anak luar biasa. Caranya..?? ya tentu saja dengan menjadikan diri kita dulu sebagai orang yang luar biasa, punya kepribadian excellent, dsb, lalu dekati anak, samakan frekuensinya, nada bicara dan ritme agak direndahkan, maka yakin deh sang anak akan mau mendengarkan orangtua. Anak hanya memperlihatkan hasil panen dari apa-apa yang ditanam orangtuanya.
Anak yang dibesarkan dengan kemarahan, ketika dewasa akan jadi pemarah
Anak yang dibesarkan dengan kasihsayang, ketika dewasa akan penuh kelembutan
Anak yang dibesarkan dengan ditakut-takuti, ketika dewasa akan jadi penakut
Anak yang dibesarkan dengan ancaman, ketika dewasa akan penuh dengan kekhawatiran
Anak yang dibesarkan dengan cinta, ketika dewasa akan jadi orang yang baik dan penuh cinta.

            Kalau ayah-bunda belum siap untuk jadi pribadi positif, artinya bersiaplah anak-anak tak akan ditulari energy positif tersebut, lalu energy siapakah yang akan menular pada anak-anak?? Tinggal pilih saja, apakah energy dari televisi, energy dari warnet, game, komik, atau energi dari teman-temannya. Semua tergantung cara dan trik orangtua. Relakah kita kalau orang-orang atau system yang tidak memberi kontribusi akan jaminan kehidupan anak-anak kita di masa depan kita serahi tugas untuk menularkan energinya saat ini…?? Owhhhh Big-Noooo,  Pilihkan orang atau lingkungan terbaik yang akan menulari high-quality energy buat buah hati kita…

Jogja, 15 Juli 2011
Rasa hormat yang dalam buat Pak Fauzan Heru Santhoso, dosen terbaik saya, terimakasih ya Pak  sudah menulari saya energy positif Bapak. Sehat dan Sukses selalu buat Bapak.






1 comments:

  1. Hebat ih mba Shint, karena idolanya terhadap seorang dosen bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan yang ada 'value'nya, sukses terus ya..., sayang banget ya di antara kita lulusan Pasca Psikologi kalau yang masih banyak belum bisa mengamalkan ilmunya... (Lyta-Jogja)

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan pendapat atau komentar anda