Oleh. Bunda Shinta
Sebagian besar dari kita ini sebenarnya seringkali
menjadi koruptor. Benarkah demikian?? Kata seorang pembicara suatu hari di suatu sesi seminar. Penasaran
saya menunggu kalimat berikutnya. Ya, kita ini tanpa sadar sering menjadi koruptor.
Tetapi, bukan seperti koruptor yang banyak sekali terselip di gedung DPR sana, di
antara pejabat-pejabat negara ini, para pemegang kekuasaan negri ini, tetapi
sebagian besar dari kita adalah koruptor, dalam hal Koruptor Rasa, dan juga Koruptor
Waktu. Maksudnya apa dan bagaimana ya..??
Ada
sebagian dari kita yang memiliki phobia
atau rasa takut yang luar biasa terhadap sesuatu, baik takut terhadap sesuatu
yang berupa benda ataupun non-benda. Misalnya ada yang sangat takut pada tikus,
balon, semut, suara petir, keadaan gelap, dan sebagainya. Rasa takut tersebut
umumnya karena dipicu oleh pengalaman yang sangat berkesan tentang hal tersebut
sehingga sangat dalam mengisi pikiran orang tersebut. Misalnya, seorang anak
yang pernah punya pengalaman menginjak kecoa di depan kamar mandi dengan tidak
sengaja ketika berumur 5 tahun. Dari pengalaman tersebut, sebenarnya mungkin
ada hal-hal pemicu lain yang membuatnya menjadi sangat kaget lalu takut terhadap
kecoa, misalnya saat itu gelap gulita karena listrik mati dan saat hujan deras,
perasaan kaget, geli atau sakit yang diciptakannya sendiri dengan menginjak
kecoa tersebut, atau mungkin ditambah lagi dengan respon orang di sekitarnya
yang berteriak ketakutan dengan menunjuk kecoa tersebut. Sehingga sejak saat
itu tertanam kuatlah di benak anak
tersebut bahwa kecoa adalah sebagai sesuatu yang menakutkan. Lalu
bertahun-tahun setelah itu si anak selalu membawa perasaan takutnya terhadap
kecoa kemanapun dia berada. Bahkan ketika sekarang misalnya dia sudah berumur
25 tahun, tetapi dia masih sangat kuat merasakan sensasi takutnya seperti saat
dulu dia menginjak kecoa, hanya karena saat ini misalnya dia menjumpai hal-hal
pemicunya yang mengingatkannya pada kecoa saat itu. Itulah yang saya maksudkan dengan betapa
pandainya kita selama ini menjadi koruptor rasa dan atau koruptor waktu.
Lha wong nginjek kecoanya kan dulu waktu umurnya 5 tahun? Koq ‘rasa’ nya masih dibawa sampai sekarang? Padahal ‘waktu’ saat ini umurnya sudah 25 tahun…, so rugi sekali anak ini selama 20 tahun sibuk menghantui dirinya sendiri ketika berada di depan kamar mandi, suasana gelap, hujan deras, dan ada orang berteriak, keadaan dan suasana seperti 20 tahun yang lalu ketika dia menginjak kecoa…..
Lha wong nginjek kecoanya kan dulu waktu umurnya 5 tahun? Koq ‘rasa’ nya masih dibawa sampai sekarang? Padahal ‘waktu’ saat ini umurnya sudah 25 tahun…, so rugi sekali anak ini selama 20 tahun sibuk menghantui dirinya sendiri ketika berada di depan kamar mandi, suasana gelap, hujan deras, dan ada orang berteriak, keadaan dan suasana seperti 20 tahun yang lalu ketika dia menginjak kecoa…..
Betapa banyak
waktu yang terbuang, disiksa sendiri oleh rasa takutnya, berapa banyak waktu
yang terbengkalai jika seandainya rasa takut itu tak dirasakannya, mungkin
banyak hal berarti yang bisa dikerjakannya. Temans, hiduplah di masa kini
(=sekarang) dengan menikmati perasaan saat ini. Lalu si pembicara melanjutkan
materinya dengan menguraikan tentang Psikologi Gestalt yang ia bahasakan dengan
istilah Here and Now. Saya lalu sudah sibuk dengan fikiran saya sendiri.
Kelihatannya sangat sepele materi ini, tetapi kita sering sekali mengabaikan
yang sepele ini. Terimakasih buat seorang teman, sahabat sekaligus guru yang
yang telah ‘menampar’ ke-kini-an saya. Saya mengenalnya ketika mengambil kuliah
Pascasarjana di Fakultas Psikologi UGM. Banyak ilmu yang saya curi darinya
tentang hidup ikhlas, baik lewat obrolan canda setiap hari ataupun kalimat-kalimat
serius dalam kelas pelatihan yang dibuatnya.
Buatlah hidupmu saat ini jauh
lebih berarti Shin, syukurilah setiap fase yang pernah kamu lewati. Belajarlah untuk
ikhlas, semata-mata hanya karena Nya, Dia Sang Maha Pencipta, begitu katanya. Jadi,
jangan biarkan masa lalu mengekangmu. Atau masa depan membuatmu bingung atau
khawatir. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu. Tersenyumlah dengan tulus, maka kamu akan bahagia....
| dilarang korupsi apa pun... |
Ehmmm,
cukuplah dasar pemahaman itu untuk membuat saya bisa merangkai kalimat-kalimat
berikut. Kalau kita masih sering diam-diam atau terus terang mengkritik setiap
koruptor (uang) di negri ini, lalu bagaimana dengan diri kita? Tenang saja, tak
akan ada yang mengajukan gugatan ke pengadilan atas ke-koruptor-an (rasa dan
waktu) kita, lalu menghakimi kita di pengadilan. Tak akan ada yang memenjarakan
diri kita, selain KITA SENDIRI. Diri
kita lah yang akan memvonis hukuman atau hadiah apa yang tepat buat kita. Ya,
lakukanlah vonis terhadap diri sendiri bahwa: saya tidak lagi membawa
perasaan-perasaan negatif masa lalu ke dalam kehidupan saya, juga tidak membawa
perasaan khawatir akan masa depan dalam kehidupan saat ini. Vonis ini bisa
membuat saya lebih produktif dan happy. Saya mensyukuri setiap apapun yang saya
lewati, termasuk mensyukuri pertemuan dengan semua teman dan siapa saja yang mewarnai hidup saya, juga dengan sahabat semua hai para pembaca…
Dasar
konsep pemahaman ‘koruptor rasa dan waktu’ tersebut dapat saya aplikasikan
untuk dunia parenting bagi para orangtua yang ingin anaknya lebih produktif dan
happy. Berarti tak ada gunanya ya selalu membicarakan kesalahan anak di masa
lalu atau mengkhawatirkan kegalalan anak di masa depan. Owwww, kelihatannya
mudah. Semoga mudah beneran nih pelaksanaannya. Ternyata betapa tidak bijak ya
kita, ayah dan bunda, yang sangat punya daya ingat kuat dalam mengingat
kesalahan anak lalu membahasnya berulang-ulang, dan mengajarkan anak tentang
betapa menakutkannya kegagalan di depan yang akan menghadang anak kita….., bukankah
itu ternyata membuat anak kita semakin merasa tidak berharga dan hidup bagaikan
dalam ancaman..?? Bagaimana mungkin lalu kita ingin anak-anak kita setiap hari
bisa sekolah dengan happy dan juga meraih prestasi….. Owh Tuhan, bantu kami,
ayah dan bunda, untuk bisa memvonis diri sendiri bahwa kebiasaan kami menjadi
koruptor (rasa dan waktu) adalah sebuah kesalahan besar…, dan sesegera mungkin
memperbaikinya sekarang juga, tak ada
lagi di antara kami yang mengatakan demikian:
“Ayo
cepetan belajar matematikanya, ingat gak ulangan matematikamu tahun lalu pernah
dapat nilai 3???”
“Awas
liat-liat donk kalau jalan, kamu tuh pernah nabrak meja sampai mecahin guci
porselen Ibu yang mahal itu…”
“Nahh
tinggal 3 bulan lagi lho kamu ujian nasional kelas 6, awas kalau gak lulus..”
Kalau
sang anak boleh menjawab, dia akan berkata: Whuaaaaa Ayah, Bunda.., kenapa
hidupku demikian menderitanya..?? tak adakah tempat dan waktu untukku tersenyum menikmati
indahnya warna-warni dunia…, tak adakah kesempatan bagiku melupakan kesalahan
masa lalu dan lalu bertekad memperbaikinya? aku takut menghadapi ujian
nasional…, Ayah sudah mengancamku…, tiap hari hidupku dalam tekanan….Rasanya
aku sudah kalah sebelum bertanding. Tak punyakah alternatif kalimat lain Ayah
dan Bunda untuk memotivasiku? Please dech, Come on Ayah, Bunda… kita ajak yukk
anak-anak kita menikmati ke-kini-annya dengan cara yang cerdas dan manusiawi. Bagaimana
mungkin kita ingin anak-anak tak memiliki jiwa dan nilai koruptor secara
global, kalau kita setiap hari selalu menyuntikkan nilai-nilai koruptor itu ke
dalam jiwa dan fikirannya?? So, hiduplah di masa kini dengan menikmati semua
perasaan yang menyelimuti hati, toh kita bukan hidup di masa lalu, dan juga
bukan sedang bermimpi hidup di masa depan yang belum jelas kemungkinannya… Wallahua’lam bisshowab.
Oleh
: Bunda Shinta
Jogja,
10 januari 2012 jam 22.30
Big
thanks for Mr. Budi Sarwono, thanks for everything…..
Aku
masih selalu belajar untuk tidak mengadili sesuatu atau oranglain dengan
fikiranku sendiri…(karena katamu itu salah satu sumber ketidakbahagiaan)







Jadi koruptor rasa dan koruptor hati juga penjahat ya..?? wah, saya sering sekali melakukan kejahatan ini...
ReplyDeleteAyo penjahatnya ditangkap, hehe.. makasih udah mampir ya.. (Bund-Shin)
DeleteNice site... You have gone one step ehead, sista.. congrat...
ReplyDelete(ini budi )
Terimakasih sdh berkenan membaca..., thanks for everything (Bund-Shin)
ReplyDelete