Tuesday, January 17, 2012

Kita Ini Koruptor ??


 Oleh. Bunda Shinta
anak-anak anti korupsi...he he

           Sebagian besar dari kita ini sebenarnya seringkali menjadi koruptor. Benarkah demikian?? Kata seorang pembicara  suatu hari di suatu sesi seminar. Penasaran saya menunggu kalimat berikutnya. Ya, kita ini tanpa sadar sering menjadi koruptor. Tetapi, bukan seperti koruptor yang banyak sekali terselip di gedung DPR sana, di antara pejabat-pejabat negara ini, para pemegang kekuasaan negri ini, tetapi sebagian besar dari kita adalah koruptor, dalam hal Koruptor Rasa, dan juga Koruptor Waktu. Maksudnya apa dan bagaimana ya..??
            Koruptor rasa dan atau koruptor waktu adalah orang yang terbiasa mengkorup ‘rasa’ dan ‘waktu’ (baik waktu di masa lalu maupun waktu di masa mendatang) ke dalam kehidupannya sekarang. Para koruptor rasa dan atau koruptor waktu tidak atau kurang menikmati ‘waktu’nya di saat sekarang. Padahal, dengan mengkorupsi rasa dan atau mengkorupsi waktu itu merupakan salah satu, eh salah dua dari hal-hal yang dapat mematikan kreativitas di saat ini. Banyak sekali di antara kita yang terjebak ke dalam fenomena korupsi ini. Kita mengorbankan saat-saat berharga dan melewatinya begitu saja hanya karena fikiran dan diri kita dikuasai oleh nyawa sang koruptor rasa dan koruptor waktu ini. Ehmm mungkin masih banyak yang bingung dengan penjelasan saya ini. Akan lebih mudah jika saya menjelaskannya melalui contoh ya…
            Ada sebagian dari kita yang memiliki phobia atau rasa takut yang luar biasa terhadap sesuatu, baik takut terhadap sesuatu yang berupa benda ataupun non-benda. Misalnya ada yang sangat takut pada tikus, balon, semut, suara petir, keadaan gelap, dan sebagainya. Rasa takut tersebut umumnya karena dipicu oleh pengalaman yang sangat berkesan tentang hal tersebut sehingga sangat dalam mengisi pikiran orang tersebut. Misalnya, seorang anak yang pernah punya pengalaman menginjak kecoa di depan kamar mandi dengan tidak sengaja ketika berumur 5 tahun. Dari pengalaman tersebut, sebenarnya mungkin ada hal-hal pemicu lain yang membuatnya menjadi sangat kaget lalu takut terhadap kecoa, misalnya saat itu gelap gulita karena listrik mati dan saat hujan deras, perasaan kaget, geli atau sakit yang diciptakannya sendiri dengan menginjak kecoa tersebut, atau mungkin ditambah lagi dengan respon orang di sekitarnya yang berteriak ketakutan dengan menunjuk kecoa tersebut. Sehingga sejak saat itu tertanam kuatlah di benak  anak tersebut bahwa kecoa adalah sebagai sesuatu yang menakutkan. Lalu bertahun-tahun setelah itu si anak selalu membawa perasaan takutnya terhadap kecoa kemanapun dia berada. Bahkan ketika sekarang misalnya dia sudah berumur 25 tahun, tetapi dia masih sangat kuat merasakan sensasi takutnya seperti saat dulu dia menginjak kecoa, hanya karena saat ini misalnya dia menjumpai hal-hal pemicunya yang mengingatkannya pada kecoa saat itu.  Itulah yang saya maksudkan dengan betapa pandainya kita selama ini menjadi koruptor rasa dan atau koruptor waktu. 

              Lha wong nginjek kecoanya kan dulu waktu umurnya 5 tahun? Koq ‘rasa’ nya masih dibawa sampai sekarang? Padahal ‘waktu’ saat ini umurnya sudah 25 tahun…, so rugi sekali anak ini selama 20 tahun sibuk menghantui dirinya sendiri ketika berada di depan kamar mandi, suasana gelap, hujan deras, dan ada orang berteriak, keadaan dan suasana seperti 20 tahun yang lalu ketika dia menginjak kecoa…..
            Betapa banyak waktu yang terbuang, disiksa sendiri oleh rasa takutnya, berapa banyak waktu yang terbengkalai jika seandainya rasa takut itu tak dirasakannya, mungkin banyak hal berarti yang bisa dikerjakannya. Temans, hiduplah di masa kini (=sekarang) dengan menikmati perasaan saat ini. Lalu si pembicara melanjutkan materinya dengan menguraikan tentang Psikologi Gestalt yang ia bahasakan dengan istilah Here and Now. Saya lalu sudah sibuk dengan fikiran saya sendiri. Kelihatannya sangat sepele materi ini, tetapi kita sering sekali mengabaikan yang sepele ini. Terimakasih buat seorang teman, sahabat sekaligus guru yang yang telah ‘menampar’ ke-kini-an saya. Saya mengenalnya ketika mengambil kuliah Pascasarjana di Fakultas Psikologi UGM. Banyak ilmu yang saya curi darinya tentang hidup ikhlas, baik lewat obrolan canda setiap hari ataupun kalimat-kalimat serius dalam kelas pelatihan yang dibuatnya.  Buatlah hidupmu saat ini jauh lebih berarti Shin, syukurilah setiap fase yang pernah kamu lewati. Belajarlah untuk ikhlas, semata-mata hanya karena Nya, Dia Sang Maha Pencipta, begitu katanya. Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu. Atau masa depan membuatmu bingung atau khawatir. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu. Tersenyumlah dengan tulus, maka kamu akan bahagia....

dilarang korupsi apa pun...

            Ehmmm, cukuplah dasar pemahaman itu untuk membuat saya bisa merangkai kalimat-kalimat berikut. Kalau kita masih sering diam-diam atau terus terang mengkritik setiap koruptor (uang) di negri ini, lalu bagaimana dengan diri kita? Tenang saja, tak akan ada yang mengajukan gugatan ke pengadilan atas ke-koruptor-an (rasa dan waktu) kita, lalu menghakimi kita di pengadilan. Tak akan ada yang memenjarakan diri kita, selain KITA SENDIRI. Diri kita lah yang akan memvonis hukuman atau hadiah apa yang tepat buat kita. Ya, lakukanlah vonis terhadap diri sendiri bahwa: saya tidak lagi membawa perasaan-perasaan negatif masa lalu ke dalam kehidupan saya, juga tidak membawa perasaan khawatir akan masa depan dalam kehidupan saat ini. Vonis ini bisa membuat saya lebih produktif dan happy. Saya mensyukuri setiap apapun yang saya lewati, termasuk mensyukuri pertemuan dengan semua teman dan  siapa saja yang mewarnai hidup saya, juga dengan sahabat semua  hai para pembaca…
            Dasar konsep pemahaman ‘koruptor rasa dan waktu’ tersebut dapat saya aplikasikan untuk dunia parenting bagi para orangtua yang ingin anaknya lebih produktif dan happy. Berarti tak ada gunanya ya selalu membicarakan kesalahan anak di masa lalu atau mengkhawatirkan kegalalan anak di masa depan. Owwww, kelihatannya mudah. Semoga mudah beneran nih pelaksanaannya. Ternyata betapa tidak bijak ya kita, ayah dan bunda, yang sangat punya daya ingat kuat dalam mengingat kesalahan anak lalu membahasnya berulang-ulang, dan mengajarkan anak tentang betapa menakutkannya kegagalan di depan yang akan menghadang anak kita….., bukankah itu ternyata membuat anak kita semakin merasa tidak berharga dan hidup bagaikan dalam ancaman..?? Bagaimana mungkin lalu kita ingin anak-anak kita setiap hari bisa sekolah dengan happy dan juga meraih prestasi….. Owh Tuhan, bantu kami, ayah dan bunda, untuk bisa memvonis diri sendiri bahwa kebiasaan kami menjadi koruptor (rasa dan waktu) adalah sebuah kesalahan besar…, dan sesegera mungkin memperbaikinya sekarang juga, tak  ada lagi di antara kami yang mengatakan demikian:
“Ayo cepetan belajar matematikanya, ingat gak ulangan matematikamu tahun lalu pernah dapat nilai 3???”
“Awas liat-liat donk kalau jalan, kamu tuh pernah nabrak meja sampai mecahin guci porselen Ibu yang mahal itu…”
“Nahh tinggal 3 bulan lagi lho kamu ujian nasional kelas 6, awas kalau gak lulus..”

            Kalau sang anak boleh menjawab, dia akan berkata: Whuaaaaa Ayah, Bunda.., kenapa hidupku demikian menderitanya..?? tak adakah tempat  dan waktu untukku tersenyum menikmati indahnya warna-warni dunia…, tak adakah kesempatan bagiku melupakan kesalahan masa lalu dan lalu bertekad memperbaikinya? aku takut menghadapi ujian nasional…, Ayah sudah mengancamku…, tiap hari hidupku dalam tekanan….Rasanya aku sudah kalah sebelum bertanding. Tak punyakah alternatif kalimat lain Ayah dan Bunda untuk memotivasiku? Please dech, Come on Ayah, Bunda… kita ajak yukk anak-anak kita menikmati ke-kini-annya dengan cara yang cerdas dan manusiawi. Bagaimana mungkin kita ingin anak-anak tak memiliki jiwa dan nilai koruptor secara global, kalau kita setiap hari selalu menyuntikkan nilai-nilai koruptor itu ke dalam jiwa dan fikirannya?? So, hiduplah di masa kini dengan menikmati semua perasaan yang menyelimuti hati, toh kita bukan hidup di masa lalu, dan juga bukan sedang bermimpi hidup di masa depan yang belum jelas kemungkinannya…  Wallahua’lam bisshowab.

Oleh : Bunda Shinta
Jogja, 10 januari 2012 jam 22.30
Big thanks for Mr. Budi Sarwono, thanks for everything…..
Aku masih selalu belajar untuk tidak mengadili sesuatu atau oranglain dengan fikiranku sendiri…(karena katamu itu salah satu sumber ketidakbahagiaan)

4 comments:

  1. Jadi koruptor rasa dan koruptor hati juga penjahat ya..?? wah, saya sering sekali melakukan kejahatan ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo penjahatnya ditangkap, hehe.. makasih udah mampir ya.. (Bund-Shin)

      Delete
  2. Nice site... You have gone one step ehead, sista.. congrat...

    (ini budi )

    ReplyDelete
  3. Terimakasih sdh berkenan membaca..., thanks for everything (Bund-Shin)

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan pendapat atau komentar anda