Kalau Anak-anak boleh memilih ketika
ada pertanyaan “Mau punya Ibu yang Ibu Rumah Tangga Sejati Atau Ibu yang
Bekerja??” kira-kira apa ya jawaban yang akan diberikan anak….?? Hmmm rasanya
bakalan jadi topik yang menarik nih…
Anak-anak, seperti hal nya orang
dewasa tentunya juga punya beragam alasan ketika menyatakan lebih memilih untuk
punya Ibu yang bagaimana. Jawaban dari anak tentunya sangat berkaitan dengan
keadaan nyaman yang sudah dirasakannya, atau justru sebaliknya, dia belum
merasakan apa yang diimpikannya. Setiap anak tentunya mengharapkan untuk selalu
dekat dengan Ibunya, karena Ibu adalah orang pertama yang bersentuhan dengannya
secara lahir dan bathin. Idealnya, seorang
Ibu adalah sosok terdekat yang selalu ada di samping anak ketika anak
membutuhkannya, dalam suasana suka maupun duka. Seiring dengan bertambahnya
usia sang anak, tentu saja dibutuhkan kualitas yang lebih mendalam antara Ibu
dan anak, tidak lagi bicara tentang kuantitas atau seberapa lama anak bisa
melihat sosok Ibu secara real di depan matanya.
Dulu, ketika sang buah hati hadir ke
dunia melalui rahimnya, banyak sekali Ibu yang lalu memutuskan untuk rela
meninggalkan segala aktivitasnya di luar rumah, demi bisa mendampingi si kecil,
dan menikmati segala proses perkembangannya baik secara fisik dan mental.
Tetapi lalu banyak orang salah mengartikan pengertian ‘pengorbanan meninggalkan
pekerjaan di luar rumah’. Sebagian dari Ibu yang memutuskan untuk full berada
di rumah, sering terjebak pada hal-hal yang sifatnya fisik, misalnya agar Ibu
bisa memandikan dan menyuapi anak, menyiapkan segala keperluan anak, bahkan
juga mengantar-jemput sendiri anaknya ke sekolah. Jika semua dilakukan dengan
senang hati dan penuh keikhlasan, tentunya tidak ada masalah. Masalah timbul
jika di tengah perjalanan, Ibu mulai merasa bosan di rumah, setiap hari
mengerjakan pekerjaan itu-itu saja, pergaulan tidak berkembang, sedangkan anak
semakin tumbuh besar dengan sibuk hampir seharian dihabiskan di sekolah dan
dengan teman-temannya. Lalu, ketika anak sampai di rumah, Ibu tetap sibuk
dengan pekerjaannya mengurus rumah tangga, anak juga sibuk dengan dunianya
sendiri. ibaratnya, setiap hari antara Ibu dan anak bertemu, tapi hanya sebatas
fisik, tidak lagi mesra untuk saling berbagi hati dan cerita antara Ibu dan
anak. Lalu, kemana Ibuku yang katanya rela meninggalkan pekerjaannya demi
aku..??
Bagi Ibu yang bekerja di luar rumah,
lain lagi masalahnya, Ibu harus sekuat tenaga membagi diri, hati dan fikirannya
antara aktivitas di luar rumah dan membayangkan dirinya bercengkrama dengan
anak-anak di rumah. Kegiatan rutin di kantor senin sampai jumat jam 8 pagi
sampai jam 5 sore tentunya sangat menyita energy, belum lagi jika pekerjaannya
dilakukan dengan tingkat stress yang tinggi, beban target dari atasan, belum
lagi ditanbah dengan keadaan kantor yang tidak kondusif, juga gaji yang tidak
sesuai dengan impian…. Whuaaaa bekerja di luar tapi koq rasanya ngenes
bangettt?? Ketika sampai di rumah, sudah dihadang dengan berbagai macam
persoalan, anak-anak yang berantem, PR anak yang terbengkalai, sementara sang
pembantu di rumah tidak sesuai dengan sosok pembantu rumah tangga ideal seperti
yang sering kita lihat di sinetron televisi. Komplittt plit plittt… Akibatnya,
anak lah tentu yang menjadi sasaran empuk. Ketika suatu kali anak minta dimanja
atau membuat sedikit kesalahan, si Ibu wanita karir bisa saja berkata: Tolong
lah Nak jangan rewel, ngerti Ibu ngga sih, Ibu ni lagi banyak pekerjaan di
kantor…dst !!!??#$%^!!!! Kalau anak boleh menjawab, maka dia akan menjawab:
haaaa masalah di kantor?? Kerjaan yang deadline?? Peduli amat sm aku, kagak ada
hubungannya lah…..
Sang Ibu Rumahtangga seringkali
mungkin bermimpi ingin menjadi Ibu Wanita karir, begitupun sebaliknya, Si
Wanita Karir seringkali mengkhayal betapa nikmatnya bercengkrama dengan
anak-anak di rumah. Seseorang seringkali
mengira akan merasa nyaman di posisi orang lain. Kalau ibarat pepatah “Rumput tetangga selalu nampak lebih hijau”.
Kita sering terpana melihat hijaunya rumput tetangga, dibandingkan menghijaukan
rumput sendiri. Yukk ah para Ibu, Bunda, Mama, Simbok, atau apapun sebutannya,
mari kita indahkan dunia kita sendiri. anak-anak tak peduli sebenarnya dengan
status Ibunya sebagai Ibu rumah tangga atau wanita bekerja, yang penting Ibu
tetap sediakan waktu buat anak, tak peduli sebentar, tapi kalau mendalam dan
mesra, tulah yang disebut quality-time
buat anak. Apalah artinya anak ada di hadapan mata seharian penuh tetapi tangan
Ibu selalu memegang sapu atau setrika, atau yang lebih parah lagi selalu pegang
hp atau bbm an always setiap waktu….huhuhu….
Hidup adalah pilihan kan Bunda,
setiap pilihan tentu ada resikonya. Tidak perlu setiap orang tau alasan apa di
balik setiap keputusan yang kita ambil. Timbang-timbanglah keuntungan dan
kerugian yang akan timbul. Tetaplah komit dengan segala pilihan, ini langkah
kita, this is your life, sediakan
kedua telinga ini untuk lebih banyak mendengarkan isi hati anak, bukan
senantiasa sediakan kedua telinga untuk sibuk memikirkan tanggapan orang lain.
Oranglain hanya jadi penonton, begitupun dengan diri kita, yang seringkali
sangat menikmati menonton kehidupan orang lain, sibuk mengira-ngira kenapa
orang lain mengambil keputusan menjadi Ibu Rumah Tangga Sejati atau Wanita
Bekerja….., sampai lupa meng-arrange
langkah terbaik apa yang sebaiknya saya ambil setelah menentukan sebuah
pilihan. Yukk ahh jadi Ibu terbaik bagi setiap anak-anak kita, tampillah
seoptimal mungkin sebagai pahlawannya, buatlah tak ada ruang kemungkinan
terbuka bagi si anak untuk bermimpi ingin memiliki Ibu seperti Ibu temannya. Jika
Bunda bisa memilih kalimat-kalimat indah yang tepat dalam mengungkapkan alasan
di balik pilihan Bunda, maka si anak akan selalu merasa bahwa inilah Bunda idamannya,
Ibu kebanggannya. Yakinkan padanya bahwa pilihan apapun yang Bunda ambil, semua
demi alasan dan kehidupan yang terbaik bagi sang buah hati….. Bunda sayang kamu
Nak…, dengungkan selalu kalimat terindah ini buatnya….
Oleh ; Bunda Shinta
Jogja,
09 Februari 2012
Tepat
di hari lahirku, moment yang pas untuk selalu evaluasi setiap pilihan dan
konsekwensi yang diambil….
#Salut
Luar Biasa Buat Para Ibu yang Rela Menyerahkan Seluruh Waktunya buat
Mendampingi Anaknya, Salut juga Buat Para Ibu Bekerja yang Punya Tenaga Ekstra
selain terus mengontrol anak, dan tetap Menyumbangkan ilmu dan tenaganya bagi
kepentingan Oranglain#






emang ga mudah jadi ibu, selalu ada aja kekurangan
ReplyDeleteyg penting komunikasi sama anak, banyak meluang kan waktu tuk bincang2, menumbuhkan dialog kpd anak dgn ortu( RS aja)
Gak mudah bukan berarti gak bisa ya ..., yg terpenting di kualitas hubungan dengan anak, bukan semata-mata ttg kuantitas.., keep spirit ya, be the best parents... (Bund-Shin)
DeleteAk ingin tetap spt skr ini bu Shinta...klau boleh dengan kesempatan & ilmu yg lebih banyak utk memperbaiki diri & keluarga...smoga. Amien...keep in touch..always be my blind spot too....
ReplyDeleteNikmati apapun deh yg ada di diri kita, focus....., selalu mau jadikan sesuatu yg positif sbg Blind-spot buat kita, oke.., thanks n miss u Bu Sari... (Bund-Shint)
DeleteBenar, quality time bersama anak itu yang terpenting, bukan soal berapa banyak waktu yang di habiskan tapi seberapa dalam hubungan antara anak dan ibunya yang bisa terbentuk. Saya melihat seorang ibu dipedalaman Kalimantan membesarkan anaknya berusia 2 thn (dia punya 3 anak yang sudah besar), bagaimana ia menjalin hubungan yang mendalam dengan anaknya dan ia lebih tampak seperti sahabat untuk anaknya dan selalu ada disisi anaknya.Dia menciptakan suasana yang hangat bersama anaknya, sampai2 saya berpikir anak itu pasti salah satu anak yang berbahagia di dunia ini walau tinggalnya jauh dari MAll. Yang terbaik utk anak tidak selalu identik dengan materi. Terima kasih untuk tulisannya yang menginspirasi.(Merry Tobing)
ReplyDeleteTerimakasih sama2 Merry, saling menginspirasi ya sist... (Bund-Shint)
Deletepingin juga ada ibu di rumah. pulang kerja sudah ada ibu di rumah.
ReplyDeleteku pengin punya ibu yang berkarya di rumah dan hasil karya itu dapat bermanfaat untuk banyak orang... (Adi Winarso, Founder ORBIT Super Leadership Center)
ReplyDeletekalo ayah ibu bekerja di rumah gimana Bunda? :)
ReplyDeletetulisan bunda shinta yang ini "aku banget"
ReplyDelete