Sunday, February 12, 2012

Enakkan Punya Ibu yang di Rumah Aja Atau Ibu yang Wanita Karier Yaa??



            Kalau Anak-anak boleh memilih ketika ada pertanyaan “Mau punya Ibu yang Ibu Rumah Tangga Sejati Atau Ibu yang Bekerja??” kira-kira apa ya jawaban yang akan diberikan anak….?? Hmmm rasanya bakalan jadi topik  yang menarik nih…

            Anak-anak, seperti hal nya orang dewasa tentunya juga punya beragam alasan ketika menyatakan lebih memilih untuk punya Ibu yang bagaimana. Jawaban dari anak tentunya sangat berkaitan dengan keadaan nyaman yang sudah dirasakannya, atau justru sebaliknya, dia belum merasakan apa yang diimpikannya. Setiap anak tentunya mengharapkan untuk selalu dekat dengan Ibunya, karena Ibu adalah orang pertama yang bersentuhan dengannya secara lahir dan bathin.  Idealnya, seorang Ibu adalah sosok terdekat yang selalu ada di samping anak ketika anak membutuhkannya, dalam suasana suka maupun duka. Seiring dengan bertambahnya usia sang anak, tentu saja dibutuhkan kualitas yang lebih mendalam antara Ibu dan anak, tidak lagi bicara tentang kuantitas atau seberapa lama anak bisa melihat sosok Ibu secara real di depan matanya.

            Dulu, ketika sang buah hati hadir ke dunia melalui rahimnya, banyak sekali Ibu yang lalu memutuskan untuk rela meninggalkan segala aktivitasnya di luar rumah, demi bisa mendampingi si kecil, dan menikmati segala proses perkembangannya baik secara fisik dan mental. Tetapi lalu banyak orang salah mengartikan pengertian ‘pengorbanan meninggalkan pekerjaan di luar rumah’. Sebagian dari Ibu yang memutuskan untuk full berada di rumah, sering terjebak pada hal-hal yang sifatnya fisik, misalnya agar Ibu bisa memandikan dan menyuapi anak, menyiapkan segala keperluan anak, bahkan juga mengantar-jemput sendiri anaknya ke sekolah. Jika semua dilakukan dengan senang hati dan penuh keikhlasan, tentunya tidak ada masalah. Masalah timbul jika di tengah perjalanan, Ibu mulai merasa bosan di rumah, setiap hari mengerjakan pekerjaan itu-itu saja, pergaulan tidak berkembang, sedangkan anak semakin tumbuh besar dengan sibuk hampir seharian dihabiskan di sekolah dan dengan teman-temannya. Lalu, ketika anak sampai di rumah, Ibu tetap sibuk dengan pekerjaannya mengurus rumah tangga, anak juga sibuk dengan dunianya sendiri. ibaratnya, setiap hari antara Ibu dan anak bertemu, tapi hanya sebatas fisik, tidak lagi mesra untuk saling berbagi hati dan cerita antara Ibu dan anak. Lalu, kemana Ibuku yang katanya rela meninggalkan pekerjaannya demi aku..??

            Bagi Ibu yang bekerja di luar rumah, lain lagi masalahnya, Ibu harus sekuat tenaga membagi diri, hati dan fikirannya antara aktivitas di luar rumah dan membayangkan dirinya bercengkrama dengan anak-anak di rumah. Kegiatan rutin di kantor senin sampai jumat jam 8 pagi sampai jam 5 sore tentunya sangat menyita energy, belum lagi jika pekerjaannya dilakukan dengan tingkat stress yang tinggi, beban target dari atasan, belum lagi ditanbah dengan keadaan kantor yang tidak kondusif, juga gaji yang tidak sesuai dengan impian…. Whuaaaa bekerja di luar tapi koq rasanya ngenes bangettt?? Ketika sampai di rumah, sudah dihadang dengan berbagai macam persoalan, anak-anak yang berantem, PR anak yang terbengkalai, sementara sang pembantu di rumah tidak sesuai dengan sosok pembantu rumah tangga ideal seperti yang sering kita lihat di sinetron televisi. Komplittt plit plittt… Akibatnya, anak lah tentu yang menjadi sasaran empuk. Ketika suatu kali anak minta dimanja atau membuat sedikit kesalahan, si Ibu wanita karir bisa saja berkata: Tolong lah Nak jangan rewel, ngerti Ibu ngga sih, Ibu ni lagi banyak pekerjaan di kantor…dst !!!??#$%^!!!! Kalau anak boleh menjawab, maka dia akan menjawab: haaaa masalah di kantor?? Kerjaan yang deadline?? Peduli amat sm aku, kagak ada hubungannya lah…..

            Sang Ibu Rumahtangga seringkali mungkin bermimpi ingin menjadi Ibu Wanita karir, begitupun sebaliknya, Si Wanita Karir seringkali mengkhayal betapa nikmatnya bercengkrama dengan anak-anak di rumah.  Seseorang seringkali mengira akan merasa nyaman di posisi orang lain. Kalau ibarat pepatah “Rumput tetangga selalu nampak lebih hijau”. Kita sering terpana melihat hijaunya rumput tetangga, dibandingkan menghijaukan rumput sendiri. Yukk ah para Ibu, Bunda, Mama, Simbok, atau apapun sebutannya, mari kita indahkan dunia kita sendiri. anak-anak tak peduli sebenarnya dengan status Ibunya sebagai Ibu rumah tangga atau wanita bekerja, yang penting Ibu tetap sediakan waktu buat anak, tak peduli sebentar, tapi kalau mendalam dan mesra, tulah yang disebut quality-time buat anak. Apalah artinya anak ada di hadapan mata seharian penuh tetapi tangan Ibu selalu memegang sapu atau setrika, atau yang lebih parah lagi selalu pegang hp atau bbm an always setiap waktu….huhuhu….

            Hidup adalah pilihan kan Bunda, setiap pilihan tentu ada resikonya. Tidak perlu setiap orang tau alasan apa di balik setiap keputusan yang kita ambil. Timbang-timbanglah keuntungan dan kerugian yang akan timbul. Tetaplah komit dengan segala pilihan, ini langkah kita, this is your life, sediakan kedua telinga ini untuk lebih banyak mendengarkan isi hati anak, bukan senantiasa sediakan kedua telinga untuk sibuk memikirkan tanggapan orang lain. Oranglain hanya jadi penonton, begitupun dengan diri kita, yang seringkali sangat menikmati menonton kehidupan orang lain, sibuk mengira-ngira kenapa orang lain mengambil keputusan menjadi Ibu Rumah Tangga Sejati atau Wanita Bekerja….., sampai lupa meng-arrange langkah terbaik apa yang sebaiknya saya ambil setelah menentukan sebuah pilihan. Yukk ahh jadi Ibu terbaik bagi setiap anak-anak kita, tampillah seoptimal mungkin sebagai pahlawannya, buatlah tak ada ruang kemungkinan terbuka bagi si anak untuk bermimpi ingin memiliki Ibu seperti Ibu temannya. Jika Bunda bisa memilih kalimat-kalimat indah yang tepat dalam mengungkapkan alasan di balik pilihan Bunda, maka si anak akan selalu merasa bahwa inilah Bunda idamannya, Ibu kebanggannya. Yakinkan padanya bahwa pilihan apapun yang Bunda ambil, semua demi alasan dan kehidupan yang terbaik bagi sang buah hati….. Bunda sayang kamu Nak…, dengungkan selalu kalimat terindah ini buatnya….

Oleh  ; Bunda Shinta
Jogja, 09 Februari 2012
Tepat di hari lahirku, moment yang pas untuk selalu evaluasi setiap pilihan dan konsekwensi yang diambil….

#Salut Luar Biasa Buat Para Ibu yang Rela Menyerahkan Seluruh Waktunya buat Mendampingi Anaknya, Salut juga Buat Para Ibu Bekerja yang Punya Tenaga Ekstra selain terus mengontrol anak, dan tetap Menyumbangkan ilmu dan tenaganya bagi kepentingan Oranglain#

10 comments:

  1. emang ga mudah jadi ibu, selalu ada aja kekurangan
    yg penting komunikasi sama anak, banyak meluang kan waktu tuk bincang2, menumbuhkan dialog kpd anak dgn ortu( RS aja)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak mudah bukan berarti gak bisa ya ..., yg terpenting di kualitas hubungan dengan anak, bukan semata-mata ttg kuantitas.., keep spirit ya, be the best parents... (Bund-Shin)

      Delete
  2. Ak ingin tetap spt skr ini bu Shinta...klau boleh dengan kesempatan & ilmu yg lebih banyak utk memperbaiki diri & keluarga...smoga. Amien...keep in touch..always be my blind spot too....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nikmati apapun deh yg ada di diri kita, focus....., selalu mau jadikan sesuatu yg positif sbg Blind-spot buat kita, oke.., thanks n miss u Bu Sari... (Bund-Shint)

      Delete
  3. Benar, quality time bersama anak itu yang terpenting, bukan soal berapa banyak waktu yang di habiskan tapi seberapa dalam hubungan antara anak dan ibunya yang bisa terbentuk. Saya melihat seorang ibu dipedalaman Kalimantan membesarkan anaknya berusia 2 thn (dia punya 3 anak yang sudah besar), bagaimana ia menjalin hubungan yang mendalam dengan anaknya dan ia lebih tampak seperti sahabat untuk anaknya dan selalu ada disisi anaknya.Dia menciptakan suasana yang hangat bersama anaknya, sampai2 saya berpikir anak itu pasti salah satu anak yang berbahagia di dunia ini walau tinggalnya jauh dari MAll. Yang terbaik utk anak tidak selalu identik dengan materi. Terima kasih untuk tulisannya yang menginspirasi.(Merry Tobing)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sama2 Merry, saling menginspirasi ya sist... (Bund-Shint)

      Delete
  4. pingin juga ada ibu di rumah. pulang kerja sudah ada ibu di rumah.

    ReplyDelete
  5. ku pengin punya ibu yang berkarya di rumah dan hasil karya itu dapat bermanfaat untuk banyak orang... (Adi Winarso, Founder ORBIT Super Leadership Center)

    ReplyDelete
  6. kalo ayah ibu bekerja di rumah gimana Bunda? :)

    ReplyDelete
  7. tulisan bunda shinta yang ini "aku banget"

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan pendapat atau komentar anda