Oleh. Shinta, S.Pd, M.Si, MA
Alhamdulillahhirobbil‘alamin, Hallo apa kabar semua anak-anak di Indonesia? Semoga semua kabar baik dan kesehatan serta kebahagiaan menyertai kita semua. Tanpa terasa kita sudah melewati satu semester lagi, hidup terasa amatlah cepat berlalu ya, sayang sekali jika kita melewatkan waktu begitu saja dengan sia-sia. Dalam Nafiri edisi kali ini Bunda Cinta akan mengulas tentangMultiple Intelligences dalam tinjauan Psikologis. Harapan Bunda Cinta adalah agar kita semua baik para Guru, Orangtua Siswa dan Siswa semuanya memiliki pemahaman bahwa tidak ada anak yang dilahirkan bodoh, setiap manusia InsyaAllah memiliki kelebihan dan keunikannya masing-masing. Ayukk kita sama-sama menemukan kelebihan kita….
Sebelum kita membahas tentang Multiple Intelligence, Bunda Cinta akan cerita dulu tentang Otak. Otak adalah salahsatu hal mendasar yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Hayooo siapa di antara kita yang masih belum mau mengoptimalkan fungsi kerja otak kita. Mari kita terus belajar dan berlatih ya anak-anak, juga bagi para Orangtua dan Guru, otak harus senantiasa distimulasi berapapun usia kita, demi agar kita bisa mempertanggungjawabkan kepada Allah karena Allah telah memberi karunia otak kepada kita.
Robert Ornstein dan Richard F. Thompson dalam penelitiannya berjudul The Amazing Brain mengatakan bahwa ukuran otak manusia hanya sebesar buah anggur. Beratnya kira-kira sama dengan berat sebutir kol. Otak mengatur seluruh fungsi tubuh, serta mengendalikan sebagian besar perilaku dasar kita. Otak bertanggung jawab atas semua kegiatan kita, harapan-harapan kita, pikiran kita, emosi kita dan kepribadian kita. Jadi sebagian besar manusia di bumi ini memiliki ukuran otak yang kuranglebih sama, yang tidak sama adalah kemauan dan usaha manusia-manusia tersebut dalam menstimulasi otak, dalam mengaktifkan sambungan-sambungan neuronnya. Ada kira-kira seratus milyar neuron atau sel syaraf di dalam otak. Seratus milyar sel syaraf dalam otak itu tidak ada gunanya jika tidak saling terkoneksi satu sama lain. Satu neuron dapat berhubungan dengan seribu sampai sepuluh ribu sel yang lain. Kecerdasan manusia terletak pada hubungan-hubungan diantara neuron-neuron itu. Dan dalam satu otak manusia, jumlah kemungkinan interkoneksi (saling tersambung) diantara sel-sel ini sebenarnya lebih besar dari jumlah atom di alam semesta.
Penelitian tersebut ternyata juga menunjukkan adanya perbedaan fungsi dan tugas antara otak kanan dan kiri. Otak kiri memiliki fungsi-fungsi untuk berfikir secara verbal, pemahaman logis, faktual dan analisis. Sementara itu, otak bagian kanan memiliki fungsi yang berkaitan dengan persepsi ruang, musik, kreativitas dan emosi. Otak kanan akan bekerja ketika kita membuat peta atau memberikan petunjuk arah. Otak kanan hanya menghasilkan kata-kata yang belum sempurna, tetapi memberikan muatan emosi dalam bahasa atau kalimat yang disampaikan. Tanpa bantuan otak kanan, kita akan mampu membaca kata “pelangi” tetapi tidak mampu membayangkan seperti apakah bentuk dari ”pelangi” itu.
Kapasitas otak kiri dan kanan inilah yang memungkinkan setiap orang memiliki potensi yang bagus dalam berbagai bidang, sehingga penampilan seseorang dalam setiap bidang atau manifestasi potensi merupakan perkara yang berbeda terkait dengan stimulasinya. Itu pula sebabnya, jika kemudian dikenal 7, 8, 9 atau bahkan 10 jenis kecerdasan atau multiple intelligencesebagaimana dikemukakan Howard Gardner, maka dasarnya adalah kapasitas otak yang berkembang sejak dalam kandungan tersebut.
Multiple intelligence (kecerdasan majemuk) adalah sebuah alternatif dalam rangka menembus suatu kebekuan. Mari kita yakini bersama bahwa setiap orang adalah cerdas dalam bidang tertentu. Karena setiap orang adalah cerdas maka tidak ada kebekuan dan tidak stagnan. Setiap orang pasti punya bakat istimewa. Kecerdasan manusia, pada awalnya hanya diukur berdasarkan kemampuan matematika dan bahasa. Alat-alat ukur untuk mengetahui kecerdasan seseorang, banyak berisi aitem-aitem yang menggambarkan kemampuan matematika dan bahasa. Tetapi ilmu pengetahuan terus berkembang. Dalam dunia psikologi modern sudah tidak lagi memandang bahwa anak cerdas adalah anak yang memiliki nilai matematika terbaik. Dunia psikologi dan pendidikan memberikan ruang yang lebih terbuka pada betapa bervariasinya bidang-bidang kecerdasan anak. Semoga dalam Nafiri edisi yang lain, Bunda Cinta bisa membahas hal ini kaitannya dengan pelaksanaan kurikulum di sekolah.
Prof. Howard Gardner dari Universitas Harvard pada tahun 1983 telah membuktikan bahwa kecerdasan terdiri dari delapan potensi kecerdasan, yaitu : Kecerdasan Intelektual (IQ) terdiri dari Kecerdasan Linguistik (Berbahasa) dan Kecerdasan Logika Matematika (Konsep Berhitung dan Berfikir Analisis), Kecerdasan Emosional (EQ) terdiri dari Kecerdasan Intrapersonal (kemampuan mengelola dirinya dengan baik) dan Kecerdasan Interpersonal (kecerdasan dalam menjalin hubungan dan koneksi dengan orang-orang di sekitarnya), Kecerdasan Kreativitas (CQ) yang meliputi Kecerdasan Kinestetik (keahlian dalam Gerak dan Olah Tubuh) dan Kecerdasan Visual Ruang (Kecerdasan dalam menuangkan gagasan dalam bentuk gambar dan persepsi dalam berbagai dimensi), dan terakhir adalah berupa Kecerdasan Adversitas (AQ) yang meliputi Kecerdasan Musikal (Kecerdasan dalam menikmati dan mengolah musikalitas seseorang) dan Kecerdasan Naturalis (Kecerdasan dalam memaknai hubungan manusia dengan alam semesta. Dalam era teknologi sekarang ini, semakin ditemukan lagi jenis-jenis kecerdasan yang lainnya.
Dari berbagai jenis Multiple Intelligences tersebut, menunjukkan bahwa setiap orang bisa saja memiliki keunggulan dalam bidang yang berbeda-beda. Orangtua yang cerdas adalah orangtua yang sepanjang hari tidak terus menerus sibuk membahas kekurangan anak, tetapi bagaimana usaha orangtua untuk bisa menemukan dan mengeksplorasi kelebihan pada anaknya. Sebagai orangtua, kita tidak perlu berharap muluk-muluk bahwa anak kita harus unggul dalam semua bidang. Jika keinginan itu ada, cobalah kita segera cepat-cepat melihat cermin dan berkaca apakah diri kita sendiri ini unggul dalam banyak bidang. Jangan-jangan keinginan kita dalam ’memaksa’ anak itu adalah akibat keinginan-keinginan masa lalu kita yang tak tercapai.
Setiap manusia biasanya diberi lebih dari satu macam keunggulan menurut teori Multiple Intelligences tersebut. Mari kita sama-sama menggali kelebihan anak kita. Bisa saja seorang anak memiliki kemampuan matematika yang rendah, tetapi dia memliki kemampuan bahasa yang baik dan juga sangat mudah bergaul serta sangat menikmati kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan alam. Artinya anak tersebut kecerdasannya yang dominan adalah kecerdasan Linguistik, Interpersonal dan Naturalis. Nah, tugas orangtua dan guru adalah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak tersebut untuk semakin menemukan dirinya, kita support dia untuk menjadi Ketua kelompok dalam kegiatan Pramuka yang sering melakukan kemah atau lintas alam.
Kasus lain misalnya anak yang sangat hobi melukis dan sering menunjukkan hasil lukisannya kepada orang lain. Berarti anak tersebut memiliki kecerdasan Visual Ruang dan kecerdasan Intrapersonal. Mari kita dorong dia untuk sering mengikuti acara-acara pameran atau lomba melukis.
Nah setelah memahami teori ini, tentunya para orangtua sudah bisa sedikit bernafas lega bahwa ternyata di dalam diri anaknya terdapat banyak kelebihan. Tidak perlu khawatir berlebihan ketika seorang anak tidak pernah juara satu di kelas, tetapi dia sangat PD dan memiliki teman yang banyak, apalagi jika ditambah dengan predikat ’tidak bisa diam’ alias selalu bergerak. Artinya anak tersebut unggul dalam kecerdasan Intrapersonal, Interpersonal, dan Kinestetik. Mulai dari sekarang ayo sama-sama belajar jadi orangtua yang cerdas dengan tidak selalu melihat ’hijaunya rumput tetangga’ sehingga lupa menghijaukan rumput kita sendiri. Artinya para orangtua seringsekali membahas kelebihan anak-anak orang lain tetapi lupa memberi perhatian pada kelebihan anaknya.
Bagi semua anak-anak di Indonesia, ayo teruslah mengeksplorasi diri, tidak perlu minder atau malu apapun potensi kalian, berjanjilah untuk jadi kebanggan Ayah dan Bunda, terus rajin belajar ya Nak, nikmati hari-hari indahmu dalam menemukan kecerdasan dirimu. Kami para orangtua terus tak henti mengirimkan doa buat kesuksesan kalian. Salam Orangtua Smart Untuk Anak-anak yang Hebat. Wassalam.
Penulis adalah Alumni Pascasarjana Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
dan Direktur di BundaCinta Parenting Centre











